Skip to main content

SARANA PRASARANA DAN EVALUASI PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Sarana dan prasarana adalah salah satu aspek penunjang dalam peningkatan mutu akademik. Keberadaan dan pilihan jenis, jumlah, mutu dari sarana prasarana ini tergantung dari kebutuhan suatu lembaga. Pengelolaan sarana dan prasarana harus dilakukan secara terintegrasi, sehingga dapat digunakan oleh seluruh program studi yang membutuhkan.  Sarana prasarana yang baik dapat memudahkan siswa dalam proses menuju hasil evaluasi yang memuaskan. Hal ini dapat dibuktikan dengan lulusan dari sebuah lembaga yang berkualitas biasanya sarana dan prasarananya baik dan memadai. Untuk itu, pengetahuan tentang sarana dan prasarana perlu diketahui dalam sebuah lembaga, khususnya lembaga pendidikan.  Karena, sarana prasarana dapat mempengaruhi nilai evaluasi belajar dan baik atau tidaknya hasil evaluasi bisa jadi dilihat dari baik atau tidaknya sarana dan prasarana belajar.

B.  Rumusan Masalah
1.        Bagaimana teori sarana prasarana dan evaluasi?
2.        Bagaimana fakta sarana prasarana dan evaluasi?
3.        Bagaimana kebijakan sarana prasarana dan evaluasi?
4.        Bagaimana sarana prasarana dan evaluasi dalam filsafat?
5.        Bagaimana solusinya agar sarana prasarana dan evaluasi dapat berjalan dengan lancar?

C.  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui teori dalam sarana prasarana dan evaluasi
2.      Untuk mengetahui fakta dalam sarana prasarana dan evaluasi
3.      Untuk mengetahui bagaimana kebijakan dalam sarana prasarana dan evaluasi
4.      Untuk mengetahui sarana prasarana dan evaluasi dalam filsafat
5.      Untuk mengetahui solusi dalam sarana prasarana dan evaluasi agar berjalan dengan lancar

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Sarana Prasarana dan Evaluasi Pendidikan
1.        Sarana pendidikan
Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat/media dalam mencapai maksud atau tujuan pendidikan. Misalnya infokus, laptop, alt peraga dan yan lainya. Jika dilihat dari sudut siswa, sarana pendidikan adalah segala macam peralatan yang digunakan siswa, untuk memudahkan mempelajari pelajaran.

2.        Prasarana pendidikan
Menurut Amirin, Tatang M. (2011) prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan. Prasarana pendidikan adalah segala macam peralatan, kelengkapan dan benda-benda yang digunakan guru (dan muid) untuk memudahkan penyelengaraan pendidikan.

3.        Evaluasi
Evaluasi pendidikan adalah suatu proses  yang sistematis didalam mengumpulkan data, menganalisis, menginterpretasi informasi atau data untuk dapat dipakai pemegang keputusan dalam rangka menjawab permasalahan yang muncul demi kemajuan dan penyempurnaan pendidikan.
Penilaian Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami pelajaran yang telah disampaikan guru. penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik dengan memiliki bebrapa tujuan.



B.     Fakta Sarana Prasarana dan Evaluasi Pendidikan
1.      Sarana Prasarana
a)      Pembelajaran Hanya Pada Buku Paket
Di Indonesia telah berganti beberapa kurikulum dari KBK menjadi KTSP. Hampir setiap menteri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum yang baru. Namun adakah yang berbeda dari kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah? 'TIDAK'. Karena pembelajaran di sekolah sejak jaman dulu masih memakai KURIKULUM BUKU PAKET. Sejak era 60-70an, pembelajaran di kelas tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Apapun kurikulumnya, guru hanya mengenal buku paket. Materi dalam buku paketlah yang menjadi "ACUAN" pengajaran guru. Sebagian Guru tidak pernah mencari sumber refrensi lain sebagai acuan belajar.

b)       Kurangnya Sarana Prasarana Belajar
Sebenarnya, perhatian pemerintah itu sudah cukup, namun masih kurang cukup. Pemerintah yang semangat memberikan pelatihan pengajaran yang PAiKEM (Dulunya PAKEM) tanpa memberikan pelatihan yang benar-benar memberi dampak dan pengaruh. Malah sebaliknya, pelatihan metode PAiKEM oleh pemerintah dilaksanakan dengan hanya berupa ocehan belaka. Banyak sekolah di Indonesia yang masih banyak bantuan pemerintah bukan hanya sekolah yang berada di pelosok-plosok diperkotaanpun banyak jumlahnya, adapun sarana prasarana sebuah sekolah sekurang-kurangnya memiliki prasarana diantaranya sebagai berikut:

c)      Ruang kelas
d)     Ruang perpustakaan
e)      Laboratorium IPA
f)       Ruang pimpinan
g)      Ruang guru
h)      Lapagan Upacara/Olaraa

i)        Tempat beribadah
j)        Ruang UKS
k)      Toilet
l)        Gudang
m)    Ruang sirkulasi
n)      Tempat bermain/berolahraga.


Namun dilapangan sudah banyak pula sekolah-sekolah yang sudah memenuhi keriteria-keriteria yang telah di sebutkan di atas. Karena pemerintah sudah memberi peraturan atau persaratan untuk mendapatkan izin pembangunan lembaga pendidikan walaupun masih ada beberapa lembaga pendidikan yang  belum melengkapi kriteria seperti belum adanya ruang lab. IPA, Ruang sirkulasi, dan tempat olahraga yang memadai.

2.      Evaluasi
a)      Pembelajaran Dengan Metode Ceramah
Metode pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya satu, yaitu metode berceramah. Karena berceramah itu mudah dan ringan, tanpa modal, tenaga, dan tanpa persiapan yang rumit, Metode ceramah menjadi metode terbanyak yang dipakai guru karena memang hanya itulah metode yang benar-benar di kuasai sebagian besar guru. Pernahkah guru mengajak anak berkeliling sekolahnya untuk belajar? Pernahkah guru membawa siswanya melakukan percobaan alam lingkungan sekitar? Atau pernahkah guru membawa seorang ilmuwan langsung datang di kelas untuk menjelaskan profesinya? Mungkin hanya sebagian kecil guru yang melakukan hal-hal tersebut. Dan mungkin "BIAYA" yang menjadi alasannya.

b)      Guru tidak menanamkan soal "bertanya"
Lihatlah pembelajaran di ruang kelas. Sepertinya sudah di seragamkan. Anak duduk rapi, tangan dilipat di meja, mendengarkan guru menjelaskan. Seolah-Olah anak dipaksa mendengarkan dan mendapatkan informasi sejak pagi sampai siang, belum lagi ada sekolah yang menerapkan Full Days. Anak diajarkan cara menyimak dan mendengarkan penjelasan guru, sementara kompetensi bertanya tidak disentuh. Anak-anak dilatih sejak TK untuk diam saat guru menerangkan, untuk mendengarkan guru. Akibatnya siswa tidak dilatih untuk bertanya. Siswa tidak dibiasakan bertanya, akibatnya siswa tidak berani bertanya. Selesai mengajar, guru meminta anak untuk bertanya. Heninglah suasana kelas. Yang bertanya biasanya anak-anak itu saja.

c)      Metode Pertanyaan Terbuka Tidak Dipakai
Salah satu ciri negara FINLANDIA yang merupakan negara ranking pertama kualitas pendidikanya adalah dalam ujian guru memberikan soal terbuka, siswa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Sedangkan di Indonesia? Tidak mungkin, guru pasti sudah berfikir, "nanti banyak yang nyontek dong," begitu kata seorang guru. Guru indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan membuat soal terbuka. Soal terbuka seolah-olah beban berat. Mendingan soal tertutup atau pilihan ganda, menilainya mudah, begitu kira-kira alasan guru sekarang.

C.    Kebijakan Sarana Prasarana dan Evaluasi Endidikan
1.      Saran prasarana
Lima Pilar Kebijakan Pendidikan :
a.       Meningkatkan Ketersediaan Layanan Pendidikan
b.      Meningkatkan Keterjangkauan Layanan Pendidikan
c.       Meningkatkan Kualitas/Mutu dan Relevansi Layanan Pendidikan
d.      Meningkatkan Kesetaraan Memperoleh Layanan Pendidikan
e.       Meningkatkan Kepastian/Keterjaminan Memperoleh Layanan Pendidikan
Kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, kriteria, dan bimbingan teknis, serta evaluasi di bidang sarana dan prasarana sebagaimana tercantum dalam PMA No. 10 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian AgamaDalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157, Subdirektorat Sarana dan Prasarana menyelenggarakan fungsi:
1)      Penyiapan perumusan kebijakan di bidang sarana dan prasarana raudhatul athfal, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan madrasah aliyah kejuruan;
2)      Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang sarana dan prasarana raudhatul athfal, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan madrasah aliyah kejuruan
3)      Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang sarana dan prasarana raudhatul athfal, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan madrasah aliyah kejuruan; dan
4)      Penyiapan bimbingan teknis dan evaluasi di bidang sarana dan prasarana raudhatul athfal, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan madrasah aliyah kejuruan.

2.      Evaluasi
Evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi.  Informasi tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada perumusan ulang masalah kebijakan, sebagai contoh, dengan menunjukkan bahwa tujuan dan target perlu didefinisikan ulang.  Evaluasi dapat pula menyumbang pada definisi alternatif kebijakan yang baru atau revisi kebijakan dengan menunjukkan bahwa alternatif kebijakan yang diunggulkan sebelumnya perlu dihapus dan diganti dengan yang lain.

D.    Sarana Prasarana dan Evaluasi Pendidikan dalam Filsafat
1.      Sarana prasaraa
Slahsatu aliran filsafat yang berhubungan dengan sarana dan prasarana adalah filsafat Pragmatisme yang berpandangan bahwa subtansi kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Dan seperti yang kita ketahui bahwa diadakannya sarana dan prasarana pendidikan adalah bukan lain hanya untuk membantu melancarkan atau mempermudah proses belajar mengajar, dan itu sangat bermanfaat bagi kehidupan dalam lingkungan pendidikan dan umum.
Kepala sekolah pengurus staf, guru dan aktivias di dalam sekolah bisa berkumpul rapat evaluasi pendidikan dan disanalah kita bisa menyampaikan hal yang perlu di rubah di dalam suatu pendidikan dimana ada hal yang perlu di tingkatkan, sehingga bisa lebih baik lagi kedepanya untuk proses  belajar mengajar. Siswa di anjurkan untuk belajar dengan tekun dan rajin mentaati atuaran yang telah di tentukan, sehingga dapat terlaksananya proses belajar mengajar.

2.      Evaluasi
Dari segi persefektif filsafat pendidikan islam, evaluasi merupakan penilaian dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran, dimana penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, didalam kelas, diluar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar. Atau dilakukan pada waktu yang khusus, penilaian dilaksanakan melalui berbagai cara seperti tes tertulis, penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa (fortofolio) dan penilaian unjuk kerja siswa.

E.     Solusi Sarana Prasarana dan Evaluasi Pendidikan
Setiap permasalahan pasti ada solusi, demikian juga dalam hal ini, dilihat dari fakta ada banyak sekali permasalahan, mulai dari sarana, prasarana bahkan dari segi evaluasi. Secara garis besar ada dua solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, yaitu:
1.      Solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan system ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks system ekonomi kapitalisme (mazhabneoliberalisme), yang berprinsip antara lain meminimalkan peran dan tanggung jawab Negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan pendidikan.
2.      Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan.

BAB III
ANALISA

Secara sepintas, sarana dan prasarana kurang dianggap penting karena yang lebih sering dibahas dan ditonjolkan lebih ke pembinaan  pendidik dan peserta didik. Sehingga ada yang beranggapan bahwasannya tanpa sarana dan prasaranapun bisa belajar. Anggapan seperti sangatlah keliru, baik belajar otodidak maupun dengan seorang guru, sarana prasarana sangatlah dibutuhkan dalam belajar.
Sangkut pautnya dengan evaluasi, sarana dan prasarana berperan penting menentukan hasil akhir belajar. Bagaimana tidak, mampukah peserta didik menjawab soal tanpa membaca dari sebuah sumber terlebih dahulu?, memang mungkin saja kalau menjawabnya dari ingatan yang telah disampaikan guru. Tapi apakah peserta didik akan selalu ingat terhadap semua pelajaran yang telah disampaikan semua guru?. Pastinya tidak, itu harus dicatat dalam sebuah buku dan buku tersebut adalah sebuah sarana untuk mengingat pelajaran yang nantinya akan dievaluasikan. Sehingga jelas, sarana prasarana mempengaruhi hasil evaluasi belajar.

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat/media dalam mencapai maksud atau tujuan pendidikan. Prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan. Evaluasi pendidikan adalah suatu proses  yang sistematis didalam mengumpulkan data, menganalisis, menginterpretasi informasi atau data untuk dapat dipakai pemegang keputusan dalam rangka menjawab permasalahan yang muncul demi kemajuan dan penyempurnaan pendidikan.
Sarana dan prasarana sangatlah penting di dalam pendidikan, karena dapat mempengaruhi hasil evaluasi belajar peserta didik.
B.     Saran
Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan, mengingat makalah ini jauh dari kesempurnaan.



DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Hj.nurjanah. Psikologi Belajar
Marzali Amri. 2007. Prasarana dan Sarana Akademik. Depok: Universitas Indonesia (BPMA UI)
Decentralized Basic Education (Dbe-1) – Usaid. 2010. Petunjuk Teknis Pemeliharaan &
            Perawatan Aset Sarana-Prasarana Sekolah Bersama Masyarakat (Buku III). Jakarta



Comments

Popular posts from this blog

Tugas UAS Pengembangan Silabus PAI

PERMENDIKBUD NO 54, 65, 66, 67 TAHUN 2013 TENTANG KURIKULUM 13 A.     PERMENDKKBUD NO 54 TAHUN 2013 T ENTANG STANDAR KOPETENSI KELULUSAN Berkaitan dengan rencana pemberlakuan Kurikulum 2013,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menerbitkan peraturan baru yang  mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan.  Dalam peraturan tersebut antara lain dikemukakan bahwa: Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Sta...

MAKALAH INPUT, PROSES, OUTPUT DAN OUTCOME PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang untuk memdewasakan manusia atau meningkatkan potensi dan kecerdasan manusia baik untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam pendidikan ada yang dinamakan input, proses, output dan outcome. Keempat aspek tersebut sangat penting dan saling berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga keempat aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Mengingat pentingnya pendidikan, banyak pendidik ataupun peserta didik yang tidak memperhatikan dan memahami input, proses, output dan outcome sehingga pendidik tidak mampu membuat peserta didiknya move on menuju arah lebih baik lagi. Dengan alasan ini, dirasa perlu untuk membahas tentang input, proses, output dan outcome untuk lebih memaknai hakikat belajar.         B. ...

MAKALAH ETIKA TEMAN SEJAWAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahawa “Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.” Ini berarti bahwa: (1) Guru hendaknya menciptakan dan memlihara hubngan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya. Dalam hal ini Kode Etik Guru Indonesia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perilaku diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota profesi. Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan formal dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal ialah hubungan yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menun...