Skip to main content

MAKALAH INPUT, PROSES, OUTPUT DAN OUTCOME PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang untuk memdewasakan manusia atau meningkatkan potensi dan kecerdasan manusia baik untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Dalam pendidikan ada yang dinamakan input, proses, output dan outcome. Keempat aspek tersebut sangat penting dan saling berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga keempat aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Mengingat pentingnya pendidikan, banyak pendidik ataupun peserta didik yang tidak memperhatikan dan memahami input, proses, output dan outcome sehingga pendidik tidak mampu membuat peserta didiknya move on menuju arah lebih baik lagi. Dengan alasan ini, dirasa perlu untuk membahas tentang input, proses, output dan outcome untuk lebih memaknai hakikat belajar.
       


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Teori Tentang Input Proses Output dan Outcome?
2.      Bagaimana Fakta Tentang Input Proses Output dan Outcome?
3.      Bagaimana Kebijakan dalam Input Proses Output dan Outcome?
4.      Bagaimana Input Proses Output dan Outcome di dalam Filsafat?
5.      Bagaimana Solusi Untuk Input Proses Output dan Outcome?

C.  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui teori Input, Proses, Output dan Outcome
2.      Untuk mengetahui fakta tentang Input, Proses, Output dan Outcome
3.      Untuk mengetahui kebijakan di dalam Input, Proses, Output dan Outcome
4.      Untuk mengetahui filsafat dalam Input, Proses, Output dan Outcome
5.      Untuk mengetahui  solusi dari Input, Proses, Output dan Outcome

BAB II
PEMBAHASAN
A.    INPUT PENDIDIKAN
1.      Teori Input Pendidikan
Input adalah semua potensi yang ‘dimasukkan’ ke sekolah sebagai modal awal kegiatan pendidikan sekolah tersebut. Dalam proses ini sumber daya input terbagi menjadi dua bagian pertama yaitu sumber daya manusia yang meliputi kepala sekolah, guru, karyawan termasmuk peserta didik. Kedua sumber daya non manusia yang meliputi sarana prasarana sekolah seperti ruang belajar, lapang, bangku, kursi dan sebagainya. Sehingga Input pendidikan adalah segala sesuatu yang harus ada dan tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu proses. Segala sesuatu yang dimaksud adalah berupa sumberdaya, perangkat-perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai alat dan pemandu bagi berlangsungnya proses.
Dalam dunia sekolah maka yang dimaksud dengan input sumber daya manusia lebih dikhususkan atau lebih cenderung kepada calon peserta, karena setiap tahunya atau tahun ajaran baru setiap lembaga pendidikan menyering peserta didik berbeda dengan sumber daya yang lain seperti guru, kepala sekolah dan yang lainya. Dimana peserta didik merupakan individu yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.
2.    Fakta Input Pendidikan
Proses pendidikan di Indonesia tidak jauh dengan di Negara lain, di bagi kedalam berbagai jenjang sesuai usia dan kemampuan peserta didik. Anak usia 6 tahun hampir dipastikan sekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
Namun jumlah peserta didik tiap rombongan belajar, dibeberapa sekolah belum mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal ataupun Standar Nasional Pendidikan masih ada yang mengacu pada SPM/SNP. Dilihat dari segi proses pembelajaran di Indonesia sudah banak mengalami beberapa perubahan system dan yang sekarang dengan menggunakan sistwm Kurikulum 2013, survey banyak yang mengatakan bahwa terlalu sering adanya perubahan maka peroses pendidkan malah akan kurang maksimal. Dilihat dari kurikulum 13 banyak keluhan-keluhan dari pihak guru dan lainya.
3.    Kebijakan Input Pendidikan
Secara teori, dalam  input potensi merupakan  modal awal untuk memulai suatu pendidikan peserta didik di lingkungan pendidikan. Artinya suatu lembaga pendidikan haruslah mempunyai metode dan sarana prasarana untuk mengembangkan potensi anak didik tersebut. Namun faktanya peserta didik dituntut untuk melakukan suatu hal diluar potensinya dengan tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu, di era sekarang ini potensi tidak hanya dijadikan sebagai modal utama untuk memulai suatu pendidikan, tetapi dengan materi, pendidikan akan bisa di dapatkan walaupun tanpa adanya potensi. Karena  materi mampu menunjang terciptanya suatu metode dan terlahirnya sarana prasarana yang mampu menggali potensi peserta didik meski awalnya mereka tidak mampu menunjukannya.



4.    Filsafat Input Pendidikan
Adapun Menurut beberapa aliran filsafat bahwa input adalah sebagahi berikut:
a.         Menurut Aliran Empirisme  anak-anak yang lahir kedunia tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa seperti kertas putih yang polos. Oleh karena anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan keinginan orang dewasa yang memberi warnapen didikannya. Seperti yang dikatakan dalam hadis ``Setiap anak dilahirkan dalam kedaan fitrah, kedua orang tua nyalah yang menjadikannya yahudi, Nasroni, atau majusi”. Manusia punya pikiran dan Kembangkan melalui pikiran. (HR.Bukhari dan Muslim)
b.        Menurut Aliran Konvergensi seseorang terlahir dengan pembawaan baik dan juga pembawaan buruk. Bakat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya lingkungan yang sesuai denganperkembangan bakat dan pembawaan tersebut.
c.         Menurut Aliran Naturalisme bahwa anak yang baru lahir pada hakekatnya memiliki pembawaan baik, namum pembawaan baik itu dapat berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa: Keluarga, Sekolah ataupun Masyarakat. Aliran ini juga dikenal sebagai Aliran Negativisme.
5.      Solusi
 Masyarakat dan pemerintah ahrus bersama-sama mewujudkan pendidikan yang berkualitas, karena akan saling membutuhkan antara pendidikan, masyarakat dan pemerintah. Pemerintah yang baik lahir dari masyarakat yang terdidik. Itu artinya bahwa pendidikan adalah kewajiban semua unsur untuk melaksanakan dan saling mendukungnya. Dalam hal ini juga semua lapisan masyarakat dan pemerintah harus memiliki satu visi dalam pendidikan yaitu sesuai dengan dalam pembukaan dalam UUD 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan masyarakat”. Dengan demikian jika semua sudah satu tujuan maka proses pendidikan akan berjalan dengan baik dan itu yang diharapkan.

B.     PROSES PENDIDIKAN
1.    Teori Proses pendidikan
 Proses adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang dirancang secara sadar dalam usaha meningkatkan kompetensi input demi menghasilkan output dan outcome bermutu.
Peserta didik dalam proses belajar merupakan subyek utama dalam pendidikan. Dalam pembelajaran peserta didik tidak mesti harus selalu berinteraksi dengan guru. Mereka bisa belajar mandiri tanpa harus menerima pelajaran dari guru di sekolah. Bagi anak didik, belajar seorang diri merupakan kegiatan yang dominan. Dalam kegiatan belajar mengajar dapat diumpamakan bahwa bakat, minat, kecerdasan dan berbagai kemampuan peserta didik merupakan potensi yang baru akan berharga dan dihormati sebagai manusia apabila berbagai potensi tersebut diolah, diproses, dibina, dibentuk dan dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai dan berguna bagi manusia. Proses mengubah berbagai hal yang dimiliki manusia yang masih berupa potensi menjadi sesuatu yang tampak jelas nilai guna dan manfaatnya dan selanjutnya menjadi sesuatu yang aktual itulah sesungguhnya hakikat proses belajar mengajar.
Proses akan dikatakan memiliki mutu yang tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan, dan lain-lain) dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning),mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Kata memberdayakan mempunyai arti bahwa peserta didik tidak sekedar menguasai pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya, namun pengetahuan yang mereka dapatkan tersebut juga telah menjadi muatan nurani peserta didik yaitu mereka mampu menghayati, mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan yang terpenting peserta didik tersebut mampu belajar secara terus menerus atau mampu mengembangkan dirinya.
2.    Fakta proses pendidikan
 Dalam kenyataan yang ada pada saat ini bahwa proses dari proses pendidikan tidaklah semuanya berjalan dengan lancar. Banyak kesulitan kesulitan belajar yang dihadapi oleh peserta didik. Terkadang antara potensi peserta didik dengan proses pembelajarannya itu bertolak belakang sehingga peserta didik sulit untuk mengembangkan potensinya.
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar diantaranya kompetensi guru sangat minim. Pada umumnya, para pendidik hanya berkonsentrasi pada disseminasi materi tanpa mempertimbangkan bagaimana proses tersebut mempengaruhi  peserta  didik  dan  membentuk  lingkungan  pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan pendidik sangat mendasar dan tidak bervariasi sehingga menyebabkan murid pasif dan tidak ada aktivitas, kurangnya hubungan pendidik dengan peserta didik juga tidak adanya motivasi yang dapat menunjang peserta didik untuk bersemangat dalam belajar.




3.    Kebijakan proses pendidikan
 Kebijakan atau Pengertian proses belajar mengajar dalam arti sederhana dapat dilihat dari surat Al-Alaq ayat 1-5 yaitu:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌ
Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq : 1-5)
Melalui metode membaca (iqra’) Tuhan (melalui Malaikat jibril) ingin agar Nabi Muhammad membacakan segala sesuatu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Para ulam tafsir melihat bahwa kata kerja perintah membaca (fi’il amr), yakni kalimat iqra’ (bacalah) pada ayat al-‘alaq tersebut tidak ada objek atau maf’ulnya. Hal ini menunjukan bahwa yang dibaca itu mencakup berbagai hal yang amat luas, yakni tidak hanya membaca yang tersurat atau yang tidak, melainkan yang termasuk yang tersirat atau yang tidak tertulis. Adanya ayat-ayat Tuhan yang terdapat didalam alam jagat raya, fenomina sosial, dan lainnya termasuk hal-hal yang harus dibaca.
Dalam kamus bahasa Arab, kosakata iqra’ atau membaca berarti menghimpun atau mengumpulkan, yakni menghimpun atau mengumpulkan informasi berupa data, fakta yang kemudian disusun mnejadi ilmu pengetahuan. Proses belajar mengajar sebgaimana digambarkan pada ayat tersebut juga melibatkan visi dan tujuan, yaitu berdasarkan nama  Tuhan (bismi rabbika(dengan menyebut nama Tuhanmu) dan warabbuk al-akram (Tuhanmu lebih mulia), dalam arti agar bacaan tersebut berisi ajaran dan petunjuk Tuhan, ditunjukan untuk membuktikan keagungan Tuhan, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Adapun manfaaatnya adalah untuk manusia. Melalui visi dan tujuan ini, maka idiologi pendidikan islam dapat dikenali, yaitu idiologi yang berbasis pada theo-antropocentris. Yakni memusatkan pada kebutuhan manusia dengan jalan mengikuti petunjuk Tuhan. Selain itu, proses belajar mengajar dalam ayat tersebut juga melibatkan sarana prasarana yang direpsentasikan dengan kosakata pena dalam arti yang seluas-luasnya, yakni alat tulis, alat rekam, alat foto, alat penyimpanan data, dan sebagainya; serta adanya kurikulum, yang dipresentasikan dengan kata allamal al-insan ma’lam ya’lam, yakni mengajarkan sesuatu yang belum diketahui manusia.
Selanjutnya pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Umar tersebut diatas, proses belajar mengajar berlangsung dari jibril (atas perintah Tuhan) kepada Nabi Muhammad Saw. Metode yang digunakan  berupa majelis, posisi murid dalm bentuk halakah (duduk bersila dalam keadaan melingkar), dan materteri yang diajarkan berupa pokok-pokok agama yang berkenaan dengan dasar-dasar (rukun) keimanan, keislaman, keihsanan, dan tentang tanda-tanda hari kiamat.
4.    Filsafat proses pendidikan
 Manusia dalam perkembangannya mengalami proses dalam tiga faktor prkembangan yangsaling mempengaruhi, yaitu faktor pembawaan, faktor lingkungan sekitar dan faktor dialektis ( proses saling pengaruh mempengaruhi antara kedua faktor tersebut). Tampaklah bahwa selain faktor pembawaan, faktor lingkungan mempunyai dampak besar sekali bagi pembentukan pribadu manusia, sehingga faktor ini oleh aliran filsafat kependidikan, Empirisme dinyatakan sebagai faktor yang paling dominan dampaknya terhadap proses perkembangan manusia. Meskipun pandangan demikian kurang populer saat ini, namun di masyarakat misalnya dinegara komunis, faktor yang disengaja dalam proses pendidkan dipandang menentukan perkembangan manusia.
Proses pendidikan dalam pandangan Pragmatisme seperti yang dikemukakan oleh beberapa pendidik di Amerika Serikat, misalnya John Dowey yang menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang tiada akhir dan berbagai proses itu berlangsung dalam berbagai tujuan, yaitu:
a)      Proses transmisi dan transformasi kultural (krbudayaan) dari generasi ke generasi.
b)      Proses komunikasi, karena masyarakat terbentuk dalam sistem komunikasi. Demikian pula dalam proses pendidikan.
c)      Proses direksi ( prngarahan) terhadap lingkungan sekitar dan kemampuan dasar anak didik.
d)     Proses konservasi dan progresif, yaitu mengawetkan kebudayaan dan memajukan kebudayaan masyarakat.
e)      Proses rekapitulasi dan rekonstruksi: proses pengulangan kebudayaan nenek moyang manusia dan sekaligus menyusun kembali pengalaman yang akan memperbesar abilitas (kecakapan) mengarahkan proses pengalaman berikutnya.
Education by proceess (pendidikan melelui proses) yang berlandaskan akan filsafat pragmatisme seperti dikemukakan oleh John Dewey diatas, bertujuan untuk memberikan pengalaman empiris kepada anak didik sehingga terbentuklah suatu pribadi yang belajar dan berbuat. Proses demikian, menurut pandangan ini trus berlangsung sepanjang hayat dengan dasar semboyan man is in the making (manusia terus menerus berada dalam proses menjadi). Hanya nilai-nilai yang dijadikan ukuran aliran ini, bukan absolutisme seperti nilai kewahyuan melainkan nilai yang relatif.
5.      Solusi
Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong atau memberikan motivasi, membimbing dan memberikan fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan. Adapun karekter yang harus dimiliki oleh guru di antaranya:
a.    Guru harus mampu memberikan motivasi kepada peserta didik dalam pembelajaran
b.    Seorang dituntuk untuk kreatif dalam proses pembelajaran agar tidak membosankan.
c.    Diharapkan guru dapat mengenal dan memahami murid secara lebih mendalam sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya.
d.   Seorang guru diharapkan mampu untuk merencanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif.
e.    Seorang guru harus mampu mengelola seluruh proses kegiatan belajar mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap anak dapat belajar secara efektif dan efesiaen.

C.    OUTPUT PENDIDIKAN
1.      Teori Output pendidikan
Output adalah hasil dari aktifitas, kegiatan atau pelayanan dari sebuah program, yang diukur dengan menggunakan takaran volume/banyaknya (NEA, 2000).  Output pada dasarnya akan banyak dipengaruhi oleh input dan proses, keefektifan proses. Sistem input yang berkualitas tentu dapat menghasilkan output yang berkualitas pula. Teori Sistem informasi “Gold in-Gold out” dapat digunakan dalam hal ini. Suatu output dikatakan berkualitas (baca: bermutu) apabila telah memenuhi beberapa persyaratan yang  ditentukan  oleh Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Output pendidikan sebagai suatu sistem sewajarnya dapat dicerminkan dari suatu prestasi mutu lulusan sekolah yang sejatinya merupakan suatu proses pembelajaran yang didukung oleh semua unsur baik dari level kementerian, dinas pendidikan propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, sampai pada kelembagaan persekolahan yang merupakan unit terkecil. Dengan kata lain, makro, meso dan mikro pendidikan secara bersama-sama menjalankan perannya sehingga menghasilkan output yang terstandar dengan baik.
2.      Fakta Output pendidikan
Fakta-fakta lain yang ditunjukan pada output siswa antara lain :
1.   Masih banyak siswa yang belum terserap dunia kerja padahal tujuan sekolah SMK untuk mempersiapkan lulusan siap kerja.
2.   Siswa tidak memiliki keterampilan spesial atau khusus
3.   Kualitas siswa relatif masih rendah.
Dunia pendidikan di indonesia harus lebih berbenah agar  siswa dapat meningkatkan kredibilitas di tingkat internasional. Namun tidak dipungkiri fakta kekinian yang ada adalah:
1.      Krisis kejujuran
2.      Krisis akhlak/moral ( sering tawuran )
3.      Sekolah melahirkan pengangguran
4.      Keahlian belum sesuai dengan dunia kerja.
Itulah fakta-fakta kekinian yang selalu akrab di tengah masyakat. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati karena masih banyak siswa lulusan pendidikan nasional yang dipekerjakan oleh negara lain bahkan menjadi tenaga ahli. Siswa lulusan pendidikan nasional bisa meneruskan ke perguruan tinggi di luar Indonesia,bahkan banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang melanjutkan kuliahnyadengan bantuan beasiswa dari perguruan tinggi itu.
3.      Kebijakan Output pendidikan
 Dalam hal ini peserta didiklah yang utama dalam input. Adapun kebijakan dari peserta didik tercantum dalam Undang-Undang SISDIKNAS Nasional No 20 tahun 2003 Bab V tentang peserta didik yang berbunyi :
1)             Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:
a)      Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
b)      Mendapatkan pelayanan pendidika sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.
c)      Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mapu membiayai pendidikannya.
d)     Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.
e)      Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara.
f)       Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
2)             Setiap peserta didik berkewajiban:
a)      Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjammin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan.
b)      Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c)      Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam wilayah NKRI.
d)     Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaiman dimaksud pada ayat 1, 2 dan 3 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
e)      terdapat beberapa sejumlah dasar pemikiran mengenai peerlunya memahami filsafat masyarakat dalam hubungannya dengan pendidikan.
f)       Pendidikan selain dilaksanakan oleh pemerintah juga dilaksanakan oleh masyarakat, pendidikan lahir dari masyarakat, dan masyarakat juga membutuhkan pendidikan. Sehingga terjadi tarik-menarik atau hubungan mutual simbolik antara pendidikan dan masyarakat.
4.      Filsafat Output pendidikan
 Terdapat sejumlah dasar pemikiran mengenai peerlunya memahami filsafat masyarakat dalam hubungannya dengan pendidikan.
Pendidikan selain dilaksanakan oleh pemerintah juga dilaksanakan oleh masyarakat, pendidikan lahir dari masyarakat, dan masyarakat juga membutuhkan pendidikan. Sehingga terjadi tarik-menarik atau hubungan mutual simbolik antara pendidikan dan masyarakat.
5.      Solusi
Adapun solusi agar para siswa terserap dalam ranah pekerjaan yaitu mereka harus memiliki lebih banyak softskill (keahlian-keahlian yang haeus di miliki) bukan hanya memikirkan hardskill (nilai atau ijazah dan yang lainnya) karena apabila siswa telah memiliki softskill mereka tidak akan susah untuk mencari pekerjaan, karena bisa di pastikan bahwa setiap lapangan kerja


D.    OUTCOME PENDIDIKAN
1.      Teori outcome pendidikan
 Outcome pendidikan merupakan dampak, manfaat, harapan perubahan dari sebuah kegiatan atau pelayanan suatu program (NEA, 2000). Outcome pendidikan ini akan menghasilkan dampak (effect) bagi masyarakat yang dapat bermanfaat atau dapat serap oleh masyarak atau lembaga lainya. Dengan kata lain, pendidikan yang bermutu akan menghasilkan outcome yang baik dan tentunya akan memiliki dampak yang baik pula.
Proses pembelajaran sebagai alat pendorong untuk terwujudnya peningkatan mutu pendidikan, kualitas layanan pendidikan pada pengguna, pemberdayaan lembaga pendidikan yang pada akhirnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Atas dasar  pemikiran di atas maka dewan sekolah/komite sekolah sebagai lembaga independen dapat menilai kompetensi dan profesionalisme guru, yang pada akhirnya mampu  memberdayakan peserta didik sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya. Outcome pendidikan mampu memperkuat sistem nilai yang bermanfaat bagi masyarakat, sebagaimana para ulama berkata bahwa sebaik-baiknya manusia yaitu dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
2.      Fakta outcome pendidikan
 Secara teori, outcome adalah efek jangka panjang dari proses pendidikan misalnya penerimaan di pendidikan lebih lanjut, prestasi dan pelatihan berikutnya, kesempatan kerja,terhadap pelayanan yang diberikan dalam suatu program atau dampak, manfaat, harapan perubahan dari sebuah kegiatan atau pelayanan suatu program. Namun pada kenyataannya banyak peserta didik yang lulusan dari perguruan tinggi tidak mampu melanjutkan kejenjang yang lebih baik.
3.      Kebijakan outcome pendidikan
 Setiap lulusan sekolah tidak semuanya di jamin akan mendapatkan pekerjaan. Tetapi perusahaan juga selektif dalam memilih karyawannya. Artinya setiap lulusan sekolah tidak memiliki kesempatan yang sama. Tetapi hal ini sebetulnya sudah di antisipasi oleh pihak sekolah.
Di tiap sekolah menengah sudah dipastikan ada yang namanya organisasi siswa, di dalam nya banyak terdapat poelatihan soft skill kepemimpinan maupun kewirausahaan. Tentu ini menjadi salah satu modal agar setiap peserta didik yang lulus sekolah tidak hanya mengandalkan orang lain untuk dapat menghasilkan uang. Tetapi di tuntut mandiri dalam menciptakan lapangan pekerjaan untuk dirinya dan orang lain.
4.      Filsafat outcome pendidikan
 Naluri dasar manusia baik secara individu maupun sosial menginginkan sebuah kehidupan yang tertib, aman damai, dan nyaman, sehingga memungkinkan mereka daat mengaktualisasikan seluruh potensinya berupa cipta karsa dan rasanya secara optimaldalam bentuk kebudayaan dan peradaban. Guna mewujudkan keadaan yang demikian itu diperlukan adanya norma ahlak aturan dan nilai – nilai moral yang disepakati bersama dan digunakan sebagai acuan.
Diantara pujangga yang berkata bahwa suatu bangsa akan tetap jaya dan mencapai keunggulan apabila bangsa tersebut ahlaknya baikdan sebaliknya suatu bangsa akan terjatuh dan menjadi hancur apabila bangsa tersebut tidak berahlak mulia.
5.      Solusi
Adapun solusi agar outcome dapat tersalur dengan baik, semua tergantung pada tahap proses pendidikan. Jika dalam tahap proses baik pasti output dan outcome punakan baik. Jadi solusinya dalam proses pembelajaran harapan dapat berjalan dengan baik dan guru mampu memberikan pengarahan terhadap potensi yang di miliki setiap peserta didik.


BAB III
ANALISIS
Keempat aspek dalam dunia pendidikan, yakni input, proses, output dan outcome merupakan aspek yang saling berkesinambungan. Input mempengaruhi proses dan proses mempengaruhi output dan outcome. Namun aspek yang harus lebih diperhatikan yakni proses, karena tanpa adanya proses maka nilai output dan outcome-nya adalah nol. Ataupun jika dalam prosesnya kurang baik maka peningkatan kualitas pembelajaran mustahil  dapat  meningkatkan  kualitas  output  pendidikan, karena output pendidikan tidak lain merupakan hasil dari proses pembelajaran.  Begitu  juga  hasil  belajar  siswa  tidak  akan  terlepas  dari pengaruh kualitas pembelajaran yang telah berlangsung sebelumnya, karena hasil  belajar  siwa  tidak  lain  merupakan produk dari  sebuah  proses,  yaitu proses pembelajaran. Tentu saja kualitas proses juga tidak akan terlepas dari pengaruh kualitas input. Hasil pembelajaran selain output berupa kecakapan akademik, kecakapan personal dan  kecakapan sosial, ada  hasil yang lain yaitu prestasi siswa dalam bermasyarakat (social achievement) yang disebut outcome. Apabila pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem, maka keempat komponen tersebut (input, process, output dan outcome) saling mempengaruhi   satu   dengan   yang   lain.

BAB IV

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Input adalah semua potensi yang ‘dimasukkan’ ke sekolah sebagai modal awal kegiatan pendidikan sekolah tersebut. Kemudian, proses adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang dirancang secara sadar dalam usaha meningkatkan kompetensi input demi menghasilkan output dan outcome bermutu. Selanjutnya, output adalah hasil dari aktifitas, kegiatan atau pelayanan dari sebuah program, yang diukur dengan menggunakan takaran volume/banyaknya dan outcome pendidikan adalah dampak, manfaat, harapan perubahan dari sebuah kegiatan atau pelayanan suatu program.
Keempat aspek dalam dunia pendidikan, yakni input, proses, output dan outcome merupakan aspek yang saling berkesinambungan. Input mempengaruhi proses dan proses mempengaruhi output dan outcome.
B.     Saran
Saran yang membangun sangat penulis harapkan, mengingat makalah ini jauh dari kesempurnaan








Comments