BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahawa
“Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan
sosial.” Ini berarti bahwa: (1) Guru hendaknya menciptakan dan memlihara
hubngan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya
menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di
dalam dan di luar lingkungan kerjanya. Dalam hal ini Kode Etik Guru Indonesia
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perilaku
diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama
anggota profesi. Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi,
yakni hubungan formal dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal ialah hubungan
yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan
kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam
lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menunjang
tercapainya keberhasilan anggota profesi dalam membawakan misalnya sebagai
pendidik bangsa.
B. Rumusan Masalah
·
Bagaimana mengenal dan memahami kepribadian rekan sejawat agar bisa
saling bekerja sama ?
·
Bagaimana menjalin komunikasi dengan rekan sejawat untuk
kepentingan pendidikan ?
·
Bagaimana melakukan persaingan kerja yang positif dengan rekan
sejawat ?
·
Bagaimana mengelola konflik dengan rekan sejawat ?
C. Tujuan
· Mengetahui bagaimana
mengenal dan memahami kepribadian rekan sejawat agar bisa saling bekerja sama.
· Mengetahui bagaimana
menjalin komunikasi dengan rekan sejawat untuk kepentingan pendidikan.
· Mengetahui Bagaimana
melakukan persaingan kerja yang positif dengan rekan sejawat.
· Mengetahui Bagaimana
mengelola konflik dengan rekan sejawat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Mengenal
Dan Memahami Kepribadian Rekan Sejawat Agar Bisa Saling Bekerja Sama
Sekolah adalah sebuah organisasi,
di mana di dalamnya terdapat sekumpulan manusia yang bekerja secara
bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan sekolah mencapai tujuan
atau visinya sangat ditentukan oleh guru dalam bekerja sama.
Ada beberapa faktor yang
menjadikan guru enggan saling bekerja sama dalam mencapai tujuan sekolah, yaitu
:
1.
Adanya
pembedaan antara guru senior dan junior
Guru
senior adalah mereka yang sudah lama mengajar di sekolah tersebut, sedangkan
guru junior adalah mereka yang terbilang baru mengajar ataupun belum lama
mengajar. Pembagian kasta tersebut tentu memiliki implikasi seperti berikut
ini:
a. Guru senior memandang guru junior belum
berpengalaman seperti mereka.
b. Guru
senior cenderung lebih suka memerintah guru junior. Kedua hal di atas
menjadikan guru senior merasa superior ketimbang guru junior. Superioritas
tersebutlah yang sering membuat guru senior tidak mau kalah oleh guru junior.
2.
Adanya
pembedan perlakuan terhadap guru PNS dan Non PNS
Pembedaan
perlakuan tersebut erat kaitannya dengan pemberlakuan suatu kebijakan, misalnya
mengangkat seorang wali kelas, kebijakan dalam mengangkat wali kepala sekolah,
kebijakan dala pelibatan guru di kepanitiaan, hingga kebijakan penentuan mata
pelajaran yan diampu dan jam mengajar.
Pembedaan
perlakuan terhadap guru PNS dan Non PNS hanya akan menjadi jurang pemisah
antara guru. Alhasil kerjasama antara guru dalam mencapai visi sekolah menjadi
sulit terlaksana.
3.
Adanya
ketidak jelasan aturan kerja di sekolah
Perbedaan
pemahaman dalam mengelola sekolah akan menjadikan perbedaan pemahaman pula bagi
para guru dala bekerja sesuai dengan jo description-nyadan juga
perbedaan dalam memahami aturan kerja di sekolah.
4.
Adanya
ketidaksamaaan visi sekolah
Ketidaksamaan
visi di sekolah pada guru lebih banyak dipengaruhi oleh adanya kepentingan
priadi yang lebih kuat dibandingkan dengan kepentingan bersama, dalam hal ini
adalah kepentingan sekolah. Guru harus sadar betul bahwa kepentingan pribadi
tersebut manakala kepentingan bersama tercapai.
5.
Adanya-adanya
kelompok-kelompok tertentu di sekolah
Sementara
itu bermunculan kelompok-kelompok tertentu di sekolah biasanya terjadi karena
adanya sikap pro dan kontra terhadap kepemimpinan atau kebijakan yang dibuat
oleh kepala sekolah.
6.
Adanya
perbedaan ide dan teknik dalam mencapai visi sekolah yang tidak disikapi secara
bijaksana
Sering
sekali terjadi perbedaan ide dan teknik dalam mencapai visi sekolah. Itu adalah
hal yan lumrah dalam kehidupan berorganisasi karena masing-masing anggota
memiliki kelibihan yang berbeda-beda. Kelebihan itulah yang kemudian digunakan
untuk saling menutupi kelemahan yang ada
pada diri mereka melalui kerjasama antar
guru. Hal itu dapat dilakukan manakala perbedaan ide dan teknik dalam mencapai
visi sekolah dapat disikapi dengan bijaksana.
Sebaiknya
guru berupaya untuk saling mengenal dan memahami kepribadian rekan sejawatnya
agar perbedaan perbedaan antarmereka tidak menjadi jurang pemisah yang menjadi
penghambat mereka untuk saling bekerja sama, caranya yaitu dengan silaturahmi.
Upaya
silaturahmi yang dilakukan guru dengan rekan sejawatnya secara kongkrit dapat
diwujudksn melalui upaya berikut:
1.
Membiasakan
berbuat baik kepada rekan sejawat
2.
Membagi
sebagian rejeki kepada rekan sejawat yang membutuhkan
3.
Menyayangi
rekan sejawat
B. Menjalin Komunikasi Dengan Rekan
Sejawat Untuk Kepentingan Pendidikan
Sama seperti manusia lainnya,
guru juga merupakan makhluk sosial. Ketika menjalankan tugasnya sebagai
pendidik dan pengajar, guru memerlukan bantuan orang lain, termasuk guru
lainnya. Hal itu dapat di lakukan oleh guru manakala ia bisa bekerja sama dengan
guru lainnya. Selain dengan model mengenal dan memahami kepribadian rekan
sejawatnya, kerjasama tersebut dapat dengan mudah di lakukan oleh guru manakala
ia dapat menjalin komunikasi dengan rekan sejawatnya secara intensif.
Komunikasi dapat dibedakan menjadi 3 bentuk. Ketiga bentuk
komunikasi antara lain
- Komunikasi personal (personal
communication)
Komunikasi personal terdiri dari
komunikasi intrapersonal dan komunikasi antarpribadi atau komunikasi
interpersonal. Komunikasi intrapersonal merupakan proses interaksi antar
individu dengan dirinya sendiri dengan maksud tertentu. Biasanya ini dilakukan
sebagai upaya pengendalian diri dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh
seseorang terhadap dirinya. Sementara
itu, komunikasi antar pribadi merupakan proses infeksi antar individu dengan
individu lainnya untuk mencapai tujuan tertentu.
2.
Komunikasi kelompok ( group
communication)
Komunikasi kelompok adalah proses
interaksi yang di lakukan oleh sekelompok orang pada suatu kelompok atau
organisasi atau lembaga. Terbagi menjadi
komunikasi kelompok kecil yang terdiri dari sekelomok orang berjumlah kurang
dari 10 orang, dan komunikasi kelompok besar yang terdiri dari sekelompok orang
yang berjumlah lebih dari 10 orang.
- Komunikasi Massa
Komunikasi massa di lakukan
melalui media masa seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, film, blog,
website, dan lain sebagainya. Komunikasi masa ini lebih bersifat umum, dimana
proses interaksi di lakukan oleh banyak orang tanpa adanya sekat atau batasan
untuk mengaksesnya.
Ada 8 komponen yang terdapat
dalam kegiatan komunikasi yang disingkat dengan kata SPEAKING yaitu:
1.
Setting dan Scene, berkenaan
dengan waktu dan tempat komunikasi berlangsung. Sedangkan scane mengacu pada
situasi psikologi komunikasi. Dengan demikian waktu, tempat, dan situasi
komunikasi dapat mempengaruhi kualitas komunikasi yang terjalin.
- Participant, yaitu pihak – pihak yang
terlibat dalam komunikasi baik sebagai pembicara maupun pendengar atau
sebagai pengirim pesan maupun penerima pesan.
- Ends, yang merujuk pada maksud dan tujuan
komunikasi.
- Act Squence, merupakan bentuk dan isi
pesan dalam komunikasi.
- Keys, yang mengacu pada nada, cara,
semangat dimana pesan di komunikasikan dengan suasana hati yang senang,
serius, singkat, dan tidak bernuansa negatif ( misalnya tidak di sampaikan
dengan kesombongan dan ejekan).
- Instrumentalities, mengacu pada jalur
bahasa yang di gunakan dalam berkomunikasi, seperti jalur lisan maupun
tulisan.
- Norm or interaction & interpretation,
mengacu pada norma atau aturan dalam berkomunikasi.
- Genre, mengacu pada jenis penyampaian,
seperti narasi, pepatah, doa.
Kegiatan komunikasi di sekolah
yang di lakukan oleh guru dan rekan sejawatnya merupakan bentuk komunikasi
kelompok. Hal itu di karenakan tujuan dari di lakukannya komunikasi tersebut
adalah untuk mencapai tujuan sekolah, dimana sekolah pada hakikatnya merupakan
sebuah organisasi.
Cara guru menjalin komunikasi
dengan rekan sejawatnya di lakukan melalui pertemuan formal (rapat,briefing,
upacara, musyawarah) maupun pertemuan nonformal ( obrolan ketika istirahat,
menuju kekelas, ketika makan dll)dengan memanfaatkan media verbal maupun
nonverbal.
Fakta menunjukan bahwa komunikasi
yang di jalin melalui pertemuan nonformal lebih”mengena” untuk dilakukan dalam
rangka mencapai suatu kepentingan pendidikan. Itu dikarenakan komunikasi
melalui pertemuan nonformal lebih bersifat santai dan fleksibel di bandingkan
dengan komunikasi melalui pertemuan formal.
Selain itu, keberhasilan guru
dalam menjalin komunikasi dengan rekan sejawatnya untu kepentingan pendidikan
juga ikut di pengaruhi oleh kemampuan guru dalam berkomunikasi.Kemampuan guru
dala berkomunikasi dapat diaktualisasikan melalui kemampuan bahasanya yang
meliputi :
1.
Kemampuan berbicara
2.
Kemampuan mendengar
3.
Kemampuan menulis
4.
Kemampuan membaca
Berdasarkan keempat kemampuan berbahasa tersebut, maka guru
juga bisa berkomunikasi secara efektif dengan menggunakan empat cara, yaitu :
- Memulai suatu pembicaraan untuk
kepentingan pendidikan, tanpa harus menunggu rekan sejawatnya membicarakan
terlebih dahulu. Hal ini bisa di lakukan secara langsung atau tidak
langsung melalui telepon.
- Mendengarkan pendapat dari rekan
sejawatnya dengan penerimaan yang antusias dengan segera
menindaklanjutinya.
- Menuangkan maksud pembicaraannya dengan
tulisan manakala guru tidak bisa menemui rekan sejawatnya secara langsung
ataupun tidak bisa menelponnya. Hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan
surat – menyurat maupun saling berkirim pesan via sms atau via jejaring
sosial atau saling berkirim pesan via e-mail.
- Membaca komentar secara tertulis dari
rekan sejawatnya dengan penuh antusias dan segera menindaklanjutinya
C. Melakukan Persaingan Kerja Yang Positif Dengan Rekan Sejawat
Adanya kompetisi atau persaingan antar anggota dalam suatu
organisasi profesi memanglah diperlukan untuk memajukan organisasi profesi
memanglah diperlukan untuk memajukan organisasi profesi tersebut. Siapapun
orangnya tidak bisa mencegah terjadinya persaingan kerja di suatu organisasi profesi,
bahkan persaingan kerja adalah hal yang ada secara alami di organisasi profesi
manapun.
Setiap guru sebagai pendidik
professional di sekolah juga akan bersaing dalam bekerja untuk menunjukan mutu
pribadinya. Persaingan kerja tersebut dapat memajukan sekolah mana kala
dilakukan secara positif. Tetapi ketika persaingan kerja ditanggapi dan
dilakukan secara tidak sehat atau secara negaif, maka persaingan kerja
antar-guru justru akan menjadi boomerang bagi pihak sekolah, yang dapat
menghambat kemajuan sekolah. Sebenarnya apa sajakah penyebab munculnya
persaingan yang tidak sehat antar-guru pada suatu sekolah ?. Bagaimana pula
caranya agar guru dapat bersaing secara positif dengan guru lain ?.
Ada
beberapa hal yang menjadi penyebab munculnya persaingan tidak sehat antar guru
di sekolah , yaitu :
1.
Ada guru yang lebih mengutamakan kepentingan pribadinya dari pada
kepentingan sekolah
Masing-masing guru sudah barang
tentu memiliki kepentingan pribadi. Idealnya sebaiknya, kepentingan pribadi
tersebut diwujudkan melalui upaya kerjasama antar-guru di sekolah dalam
mewujudkan tujuan organisasi sekolah. Namun, ketika kepentingan pribadi
tersebut diwujudkan melalui upaya pribadi akan terjadi persaingan yang tidak
sehat antar-guru untuk meng-gol-kan kepentingan pribadinya.
2.
Ada guru yang di anak emaskan oleh kepala sekolah
Biasanya kepala sekolah menganak
emaskan guru yang patuh atau taat terhadapnya dan bisa menyelesaikan dengan
baik berbagai tugas yang ia berikan kepadanya. Sebagai anak emas kepala
sekolahnya, guru biasanya akan mendapatkan honor lembur, mendapatkan jabatan
tertentu di sekolah (wali kelas dan wakil kepala sekolah misalnya), mendapatkan
izin untuk memakai fasilitas sekolah (motor dan laptop misalnya) dan lain
sebagainya.
3.
Ada guru yang terkena penyakit hati, seperti sombong dan iri
Sombong dan iri merupakan dua penyakit hati yang berbahaya.
Sombong bisa juga di sebut dengan takabur. Sombong pada diri seseorang muncul
manakala dia merasa dirinyalah yang paling pintar, paling disiplin, paling
kaya, paling tampan, paling cantik, paling tinggi pendidikannya, paling tinggi
jabatannya, dan sebagainya. Mudahnya sombong muncul pada diri seseorang
manakala ia merasa paling mampu dan menjadikannya menganggap orang lain rendah
ataupun meremehkannya.
4.
Ada asumsi bahwa kesuksesan yang di dapat oleh seorang guru dapat
mengancam guru yang lainnya
Hal ini terjadi manakala guru merasa kesuksesan yang diraih
oleh rekan sejawatnya dapat menghalangi upayanya dalam menggolkan kepentingan
pribadinya. Alhasil guru pun akan mencegah rekan sejawatnya meraih kesuksesan
dengan menghalalkan segala cara ketika bersaing dalam bekerja, misalnya dengan
cara menjelek-jelekannya, memfitnahnya, menuduhnya melakukan perbuatan tercela
, menyebarkan isu-isu miring tentangnya dan lain-lain.
Sementara itu ada
beberapa cara yang dapat dilakukan oleh guru agar dapat melakukan persaingan kerja yang positif
dengan rekan sejawatnya, antara lain :
·
Bersikap rendah hati atau tawadhu
Sikap rendah
hati atau tawadhu adalah sikap rendah hati dengan tidak memandang dirinya lebih
dari orang lain.
·
Tidak enggan mengucapkan selamat kepada rekan sejawat yang sukses
atau berhasil di dalam melakukan suatu tugas dan meminta doa agar segera
menyusul meraih sukses atau keberhasilan.
·
Tidak enggan meminta masukan kepada rekan sejawatnya yang telah
berhasil dalam melakukan tugas.
D. Mengelola Konflik Dengan Rekan Sejawat
Konflik mudahnya dapat diartikan dengan pertentengan interpersonal maupun
antarpesonal yang berdampak negative. Dlam organisasi sekolah, konflik
antarpersonal bisa saja terjadi, misalnya konflik antara guru dengan rekan
sejawatnya. Mengapa konflik tersebut muncul ?, apa pula dampak negative yang
ditimbulkan oleh konflik ?, dan bagaimanakan cara mengelola konflik yang
terjadi antara guru dengan rekan sejawatnya ?.
Konflik
dapat terjadi karena ada hal-hal berikut :
1.
Adanya rasa kecewa dan
frustasi pada diri guru karena tujuan pribadinya tidak tercapai.
2.
Adanya rekan sejawat yang
menghalangi guru dalam mencapai tujuan pribadinya.
3.
Adanya rekan sejawat yang
menolak ide-idenya.
4.
Adanya persaingan kerja yang
tidak sehat
5.
Adanya sikap individualis
dalam bekerja pada masing-masing guru.
6.
Adanya guru yang merasa
dirugikan oleh guru lainnya.
Ada dua jenis
konflik yang bisa terjadi di sekolah antara guru dan reka sejawatnya, yaitu :
1. Konflik yang dirasakan (felt conflict)
Pada konflik yang dirasakan terdapat
keterlibatan emosional di dalamnya yang dapat menimbulkan perasaan tidak tenang
, tegang, frustasi, atau sikap saling bermusuhan.
2. Konflik yang dipersepsi (perceived conflict)
Pada konflik yang diperepsi, satu
pihak guru atau lebih menyadari adanya kondisi-kondisi yang menyebabkan munculnya
konflik antar mereka.
J. Winardi
mengungkapkan bahwa setidaknya ada empat sifat konflik, antara lain :
1. Konflik intrapersonal, yaitu konflik yang timbul dalam diri
seorang individu
2. Konflik interpersonal, yaitu konflik yang terjadi antara individu
3. Konflik intragroup, yaitu konflik yang terjadi di dalam sebuah
kelompok
4. Konflik intergroup, yaitu konflik yang terjadi antara
kelompok-kelompok
Ada beberapa
cara yang dapat digunakan oleh guru dalam mengelola konflik, antara lain :
1.
Mengakomodir pemahaman para guru di sekolah
2.
Mempersatukan pemahaman guru-guru yang berbeda keinginan, berbeda
kepentingan, dan berbeda pemikiran
3.
Membuat komitmen untuk melebur perbedaan-perbedaan tersebut.
4.
Menyepakati komitmen yang telah dibuat untuk kepentingan pencapaian
tujuan sekolah
5.
Menghindari melakukan pelanggaran terhadap komitmen yang telah
disepakati
6.
Mengingatkan pihak guru yang melanggar komitmen
7.
Melakukan kompromi dengan pihak guru yang masih saja melanggar
komitmen, meskipun sudah berkali-kali ia diinginkan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas kami
menyimpulkan bahwa :
Dalam hal ini Kode Etik Guru Indonesia
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perilaku
diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama
anggota profesi, Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari hubungan
yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan dan hubungan kekeluargaan
ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam lingkungan kerja
maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menunjang tercapainya
keberhasilan anggota profesi dalam membawakan misalnya sebagai pendidik bangsa.
SARAN
Kepada mahasiswa diharapkan dapat lebih mengerti serta
memahami tentang Etika Guru Terhadap Rekan Sejawat. Penulis banyak berharap
para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis
agar adanya perbaikan dimasa yang mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Wiyani
, Novan Ardy. 2015. Etika Profesi Keguruan. Yogyakarta : Penerbit Gava
Media
(Online), (http://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/
No_026/Kode Etik Guru Indonesia.htm, diakses 17 Oktober 2015).
Comments
Post a Comment