Skip to main content

MAKALAH USIA MADYA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

             Seorang manusia dalam rentang kehidupannya melalui berbagai macam fase atau masa seiring perkembangan usia mereka. Dalam setiap fase memiliki tugas-tugas perkembangan masing-masing, hal ini berbeda antara fase satu dengan fase yang lainnya. Masing-masing individu dituntut untuk dapat menyelesaikan setiap tugas perkembangannya sesuai dengan tahapan fase yang dilaluinya dan rentang usia yang sudah ditentukan pada tiap fase tersebut.
            Seorang individu dapat dikatakan normal atau bahagia apabila ia dapat menyelesaikan tugas perkembangannya dengan tepat waktu. Apabila individu tersebut tidak dapat atau mengalami hambatan dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, maka individu tersebut akan mengalami gangguan atau ketidakbahagiaan baik dalam aspek fisik, kognitif, emosi, sosial, maupun spiritualnya.
            Pada masa pranatal, bayi, kanak-kanak hingga masa remaja mempunyai ciri atau karakteristik tersendiri. Begitu pula dengan masa dewasa madya yang memiliki karakteristik tersendiri baik itu pada fisik maupun mental, sehingga seseorang yang sudah dewasa dapat diketahui apakah sudah memasuki usia madya atau belum.
            Setiap masa atau fase pada manusia memiliki tuntutan tersendiri yang harus dicapai, begitu pula pada usia madya diantarnya yaitu mandiri. Untuk dapat mencapainya, seseorang yang berusia madya terlebih dahulu harus memahami apa saja tugas-tugas perkembangan bagi usia madya dan dapat memenuhi tugas-tugas tersebut.


B.     Rumusan Masalah

1.      Apa usia madya itu?
2.      Bagaimana karakteristik usia madya?
3.      Apa tugas-tugas perkembangan usia madya?
4.      Bagaimana penyesuaian pribadi dan sosial usia madya?
5.      Bagaimana penyesuaian pekerjaan dan keluarga?

C.    Tujuan

1.      Mengetahui apa itu usia madya
2.      Mengetahui karakteristik usia madya
3.      Mengetahui tugas-tugas perkembangan usia madya
4.      Mengetahui penyesuaian pribadi dan sosial usia madya
5.      Mengetahui penyesuaian pekerjaan dan keluarga usia madya


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Usia Madya

            Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dewasa yang berawal dari masa dewasa muda yang berusia 40- 65 tahun. Pada masa dewasa madya, ada aspek- aspek tertentu yang berkembang secara normal, aspek-aspek lainnya berjalan lambat atau berhenti. Bahkan ada aspek- aspek yang mulai menunjukkan terjadinya kemunduran- kemunduran.
Aspek jasmaniah mulai berjalan lamban, berhenti dan secara berangsur menurun. Aspek- aspek psikis (intelektual- sosial- emosional- nilai) masih terus berkembang, walaupun tidak dalam bentuk penambahan atau peningkatan kemampuan tetapi berupa perluasan dan pematangan kualitas. Pada akhir masa dewasa madya (sekitar usia 40 tahun), kekuatan aspek- aspek psikis ini pun secara berangsur ada yang mulai menurun, dan penurunannya cukup drastis pada akhir usia dewasa.
            Ada beberapa pendapat tentang masa dewasa madya, antara lain :
1.      Usia dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan masa remaja.
2.      Bila masa remaja merupakan masa peralihan, dalam arti bukan lagi masa kanak-kanak namun belum bisa disebut dewasa, maka pada setengah baya, tidak dapat lagi disebut muda, namun juga belum bisa dikatakan tua.
3.      Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi psikologisnya, sedangkan individu setengah baya juga mengalami perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemunduran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya.


B.     Karakteristik Perkembangan Setengah Baya ( 40-60 Thn )

            Setengah baya menunjukkan banyak kesamaan dengan masa remaja. Khusus posisi usia setengah baya, sama dengan posisi masa remaja. Perubahan-perubahan hal pisik dan psikis juga terdapat kesamaan antara  dua masa kehidupan itu.
            Kalau posisi masa remaja merupakan peralihan, tak lagi dapat dikatakan kanak-kanak dan belum lagi disebut dewasa, maka posisi usia setengah baya juga dalam peralihan, tidak muda dan bukan tua. Masa remaja merupakan masa terjadinya perubahan yang cepat bagi hal-hal pisik yang membawa akibat-akibat terhadap perilaku dan perasaan-perasaannya. Usia setengah baya, deikian pula. Bedanya, kalau pada masa remaja perubahan itu bersifat pertumbuhan, maka dalam masa setengah baya bersifat pemunduran. Tetapi yang lebih penting, perilaku dan perasaan yang menyertainya adalah sama yaitu “ salah tingkah” canggung dan kadang-kadang bingung.
            Adapun ciri-ciri / karakteristik dari perkembangan masa setengah baya adalah:
1)      Masa Yang Ditakuti
             Di samping masa tua ( old age ), usia setengah baya merupakan masa yang sangat ditakuti datangnya oleh orang banyak.  Orang-orang dewasa, terutama yang mendekati tahun-tahun terakhir masa dewasa awal, pada umumnya seakan ingin mengerem laju pertambahan usia mereka.
             Bagi wanita, usia setengah baya tidak saja berarti menurunnya kemampuan reproduktif dan datangnya menopause, tetapi juga bararti merosotnya daya tarik seksual. Pada umumnya wanita merasa tidak lagi menggiurkan bagi suami mereka. Tambahan pula dala usia ini, bagi banyak keluarga, karena adnya peningkatan karier serta pemantapan jabatan suami, banyak di antara suami yang sibuk dan berkurangnya waktu di rumah. Akibatnya, banyak isteri yang merasa terabaikan dan kesepian dan merasakan depresi.
            Khusus bagi pria, setengah baya merupakan usia yang mengandung arti menurunnya kemampuan fisik ( secara menyeluruh ) termasuk berkurangnnya vitalitas seksuilnya. Beberapa kaum pria yang mulai mengalami adanya tanda-tanda menurunnya kemampuan seksuil ini, mengalihkan perhatian mereka pada kesibukan kerja demi peningkatan prestasi. Ada pula diantaranya yang justru sebaliknya; semakin memperhatikan penampilannya, berdandan sedemikian rupa untuk menarik perhatian wanita muda. Perilaku ini sesungguhnya  merupakan pembungkus dari ketidakpercayaan terhadap daya tarik seksuil mereka. Kaum pria setengah baya seakan ingin membuktikan dirinya sebagai orang yang masih muda dan mampu, hal yang justru sering menjerumuskan untuk memperoleh cap “nafsu besar tenaga kurang.”
            Menurut E.B. Hurlock dalam bukunya “ Development Psychology” ( 1968), kurangnya pengetahuan tentang usia setengah baya dan kurangnya persiapan untuk menghadapi masa itu merupakan sebagian penyebab adanya rasa takut terhadap usia itu. Persis sama dengan ketakut  an anak-anak dan orang tua mereka terhadap masa pubertas dengan perubahan-perubahan pisik serta perubahan tingkah laku yang menyertainya, demikian pula orang dewasa yang terdapat  dalam kedua  keaadaan di atas itu, dapat diredakan dengan kelengkapan pengetahuan tentang masa itu dan persiapan-persiapan untu menghadapinya.
2)      Masa Transisi
            Tidak jauh bedanya dengan masa pubertas yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja (adolescence) dan masa dewasa,usia setengah baya juga merupakan suatu masa transisi. Bagi orang dewasa dalam  usia setengah baya,  sebagian cirri-ciri pisik dan perilakunya memperlihatkan cirri-ciri dewasa awal, sementara banyak cirri pisik dan perilakunya memperlihatkan ciri-ciri dewasa awal, sementara banyak ciri pisik dan perilaku lainnya memperlihatkan cirri-ciri baru sebagai orang yang sudah tua.
            Dengan adanya perubahan-perubahan hal pisik dan adanya pola-pola prilaku baru, mengharuskan individu-individu dalam usia ini untuk belajar dan memainkan peranan-peranan baru pula. Sebagaimana halnya dalam masa remaja, orang-orang dewasa setengah baya diharapkan untuk berfikir dan berlaku hal yang berbeda dengan ketika mereka masih muda atau dewasa awal. Sama halnya dengan masa pubertas, dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masa setengah baya mempunyai hubungan yang berarti dengan keruwetan atau kesukaran-kesukaran emosional yang dialami baik oleh pria maupun wanita. Dengan ini berarti bahwa menurunya kejantanan bagi pria dapat membingungkan, menghawatirkan dan menyusahkan. Menurunnya kesuburan bagi wanita setengah baya dapat sangat menyedihkan.
3)      Masa Penyesuaian Kembali
            Dalam masa setengah baya, cepat atau lambat, seseorang haruslah membuat penyesuaian-penyesuaian kembali terhadap adanya perubahan-perubahan pisik yang dialaminya. Apabila usia telah melangkah maju, meninggalkan masa muda dengan berbagai keindahan dan dinamikanya, dan seseorang telah memasuki pintu gerbang setengah baya, diharapkan kepadanya telah siap untuk mengadakan pengubahan terhadap pola-pola perilaku yang sesuai.perombakan-perombakan pola perilaku itu, terutama dilakukan jika ternyata banyak yang tidak selaras dengan “kewajaran” perilaku umum sebagai mana layaknya orang tua dalam masa usia ini. Dengan demikian, bagi beberapa orang dewasa, perombakan-perombakan itu mungkin harus telahh dilakukannya sejak awal masa setengah baya. Bagi beberapa orang lainnya barangkali tidak ada hal-hal yang memaksa dalam perombakan sebab mereka telah memiliki pola perilaku yang layak atau baik sepanjang masa dewasanya. Namun, bagaimanapun juga, cepat atau lambat, penyesuaian perilaku itu sangat perlu adanya seirama dengan datangnya perubahan-perubahan pisik secara pasti.  Dengan kata lain, diperlukan adanya penyesuaian kembali baik terhadap perubahan-perubahan pisik maupun perubahan-perubahan peranan.
4)      Masa Keseimbangan dan Ketakseimbangan
            Keseimbangan atau “equilibrium” pengertiannya mengacu pada adanya penyesuaian layak yang dilakukan oleh orang-orang dewasa (sehubungan dengan perubahan fisiknya) yang dicapainya dalam tingkat usia tertentu. Sedangkan ketakseimbangan merupakan keadaan yang sebaliknya, yaitu masih terjadinya kegoncangan penyesuaian yang dialami dalam usia-usia tertentu. Kesimbangan dan ketakseimbangan  itu, dialami oleh orang setengah baya baik bagi dirinya sendiri (internal) maupun dalam hubungannya dengan pasangan suami-isteri.
            Baik wanita maupunn pria setengah baya keseimbangan diri  sendiri dapat dicapai jika ada penyesuaian secara menyeluruh dan radikal bagi pola-pola kehidupannya. Adanya keseimbangan itu ditandai oleh dicapainya suatu keadaan tenang dan damai di rumah, tidak lagi “keluyuran” baik dalam artian pisik maupun psikis.
            Sekaitan dengan ketakseimbangan hubungan suani isteri itu, E.B. Hurlock mengatakan bahwa banyak persoalan-persoalan perkawinan  yang mendatangkan ketidakbahagiaan, perceraian, suami meninggalkan isteri atau menceraikan isteri, dapat ditelusuri penyebabnya pada perbedaan-perbedaan saat tibanya ketakseimbangan (disequilibrium) kedua jenis kelamin atau pasangan tersebut.
5)      Usia Berbahaya
            Usia setengah baya sebagai usia berbahaya, juga mengandung arti bagi banyak aspek kehidupan lainnya. Antara lain, jika individu sakit karena berlebihan dala bekerja, berlebihan kekhawatirannya, atau hidup yang sembarangan. Apabila sakit akibat  kelebihan kerja demikian serius, dapat menuntun seorang ke arah kematian.
            Usaha-usaha menghindari timbulnya keadaan berbahaya dalam usia setengah baya. Para ahli umumnya menitik beratkan perhatiannya pada akar permasalahan atau cikal-bakal terjadinya keadaan bahaya itu.apabila ditelusuri latar belakanngnya, maka kebanyakann kasus menghantarkan pada pekerja sosial, penyuluh ( konselor) perkawinan,  atau psikiater pada adanya perbedaan-perbedaan tingkat usia pasangan suami isteri sehingga dialai ketakseimbangan dalam hal pencapaian keadaan  “ betah di rumah.” Juga karena rasa terancam yang dialami oleh wanita sehubungan datangnya menopause dan oleh pria sehubungan dengan datangnya climacteric dan pensiun. Pengobatan yang sering dilakukan adalah usaha-usaha membelajarkan orang dewasa setengah baya dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan pisik dan peranan yang dialaminya. Semuanya diarahkan agar mereka “betah di rumah ,” dan menemukan aktivitas-produktif.
6)      Usia Kaku atau Canggung
            Seperti halnya masa remaja yang tidak lagi dapat disebut sebagai kanak-kanak dan juga belu dapat dikatakan telah dewasa; posisi setengah baya demikian pula, sudah tidak lagi muda dan juga belum tua.
            Oleh karena posisi yang demikian itu, para setengah baya ini banyak yang merasa tidak mendapat pengakuan dari masyarakat sekitarnya. Karena itu, mereka ingin menutupi ketuaan dengan berbagai cara dan sejauh mungkin mencoba agar tidak terlihat tua. Adanya keinginan untuk tidak nampak tua itu, dinyatakanya dengan antara lain pemilihan busana yang dikenakan.
            Beberapa pria dan kebanyakan wanita setengah baya mengenakan pakaian yang rapih seakan ingin mengalahkan anak-anak muda usia dengan maksud untuk meyakinkan diri sendiri dan orang-orang lain bahwa “ saya belum lagi setengah baya”      ( Hurlock 1968 ) . Pada pihak lain, seperti dikatakan oleh M.S.Ryan; “ Clothing; a study in human behavior” (1966), sebagian besar usia setengah baya berusaha berbusana dan berdandan sebaik mungkin, akan tetapi mereka konservatif ( kolot ) dalam berpakaian dan berdandan, dan belum bisa menguasai gaya  hidupnya secara mapan. Lebih lanjut Ryan menjelaskan bahwa konservatisme orang-orang usia setengah baya mewarnai pemilihan  benda-benda miliknya seperti rumah dan mobil, demikian pula dalam  tindak-tanduk dalam perjamuan, pesta dan sebagainya.
            Dua keadaan yang bertentangan itu, yaitu berpakaian dan berdandan rapi “pembungkus” ketuaan disatu pihak dan gejala konservatisme dalam hal mode pada lain pihak, membuat para orang dewasa setengah baya ini Nampak janggal dalam penampilannya. Kejanggalan-kejanggalan dalam banyak penampilan orang dewasa usia ini menggambarkan keadaan yang kaku atau canggung yang dialami oleh para orang setengah baya pada umumnya.
7)      Masa Berprestasi
            Berprestasi dalam usia setengah baya merupakan satu gambaran keadaan yang sangat positif dalam masa ini. Sejak tahun-tahun pertama usia setengah baya, terbuka peluang berprestasi ini, bahkan puncak prestasi yang dapat dicapai individu dalam tiap-tiap jangka kehidupannya tidak dapat menandingi puncak prestasi yang dicapai dalamm usia ini. Dengan demikian, usia setengah baya tidak melulu berisi gambaran yang tak enak.
            Dalam hal ini Hurlock berpandangan bahwa apa yang dapat dicapai ini, tidak hanya sukses dalam hal keuangan dan sosial, tetapi juga dalam hal kekuasaan dan prestise. Pada umumnya, puncak prestasi itu dicapai dalam usia 40 sampai 50 tahun. Setelah itu seseorang tinggal bersenang-senang menikmati jerih-payahnya. Para pejabat dan pemimpin formal kebanyakan dalam usia itu.
            Factor-faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian prestasi puncak itu tentu saja ada, sehingga terdapat pula variasi cepat atau lambatnya dicapai puncak prestasi tersebut. Variasi itu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan kreativitas, tingkat pendidikan, bidang kegiatan dan kesempatan; khususnya dala relasi-relasi sosial.
            Kembali pada inti bahasan, dapat disimpulkan bahwa usia setengah baya merupakan masa yang penuh peluang untuk berprestasi bagi individu, yang walaupun dalam banyak hal, terdapat variasi yang dapat dicapai oleh masing-masing individu dan kecepatan individu dalam mencapai prestasi tersebut.
8)      Usia madya dievaluasi dengan standar ganda
            Ciri kedelapan usia madya adalah bahwa usia ini dievaluasi dengan standar ganda, satu standar bagi pria dan satu lagi bagi wanita. Meskipun standar ganda ini mempengaruhi banyak aspek terhadap kehidupan pria dan wanita madya, tapi ada dua aspek khusus yang perlu diperhatikan.
Pertama adalah aspen yang berhubungan dengan perubahan jasmani. Kedua, dimana standar ganda dapat terlihat nyata pada cara mereka (pria dan wanita) menyatakan sikap terhadap usia tua.
9)      Usia madya merupakan masa sepi
            Ciri kesembilan usia madya adalah bahwa usia ini dialami sebagi masa sepi (empity nest), masa ketika anak-anak tidak lagi tinggal bersama orang tua. Kecuali dalam beberapa kasus, dibandingkan dengan usia rata-rata, atau menunda kelahiran anak hingga mereka lebih mapan dalam karier atau mempunyai keluarga besar sepanjang masa, usia madya masa sepi dalam kehidupan perkawinan.
10)  Usia madya merupakan masa jenuh
            Ciri kesepuluh usia madya adalah bahwa sering kali periode ini merupakan masa yang penuh dengan kejenuhan. Para pria menjadi jenuh dengan kegiatan rutin sehari-hari dan kehidupan bersama keluarga yang hanya memberikan sedikit hiburan, wanita yang menghabiskan waktunya untuk memelihara runah dan membesarkan anknya,  bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan pada usia dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Kejenuhan tidak akan mendatangkan kebahagiaan ataupun kepuasan pada usia manapun. Akibatnya usia madya sering kali merupakan periode yang tidak menyenangkan dalam hidup.

C.    Tugas-Tugas Perkembangan Usia Madya

1.      Tugas Perkembangan  Setengah Baya Menurut Hurlock ( 1968 )
            Tahapan dewasa menengah merupakan masa transisi, masa menyesuaikan   kembali, masa equilibrium-disequilibrium. Masa yang ditakuti karena mendekati masa tua. Wanita di sini kehilangan kesanggupan reproduksi. Ada yang menyatakan bahwa masa ini adalah masa bahaya bagi pria dan wanita.
            Menurutt Hurlock, secara kasar , tugas-tugas perkembangan bagi setengah baya dapat digolongkan dalam empat bagian besar :
1)      Perubahan-perubahan pisiologis bagi setengah baya.
2)      Tugas-tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik. Tugas ini meliputi untuk mau melakukan penerimaan akan penyesuaian dengan berbagai perubahan fisi yang normal terjadi pada usia madya. Penyesuaian diri terhadap perubahan fisik terasa sulit karena adanya kenyataan bahwa sikap individu yang kurang menguntungkan semakin diintensifkan lagi oleh perilaku social yang kurang menyenagkan terhadap perubahan normal yang muncul bersama tahun-tahun selanjutnya. Perubahan fisik yang terpenting, yang terhadapnya orang berusia madya harus menyesuaikan diri diantaranya:
a.       Perubahan dalam penampilan
Seperti telah diketahui, sejak masa remaja dini, penampilan seseorang memegang peranan yang sangat penting terutama dalam penilaian sosial, dan kepemimpinan. Mereka yang berusia madya, memberontak terhadap penilaian status tersebut yang mereka takuti ketika penampilan mereka menurun. Bagi pria dan wanita selalu terdapat ketakutan bahwa penampilan usia madya mereka akan menghambat kemampuan untuk mempertahankan pasangan mereka (suami/istri), ataupun mengurangi daya tarik terhadap lawan jenisnya.
b.      Perubahan dalam kemampuan indra
Deteorisasi bertahap dari kempampuan indera mulai pada usia madya. Perubahan yang paling merepotkan dan nampak terdapat pada mata dan telinga. Perubahan fungsional dan generatif  pada mata berakibat mengecilnya bundaran kecil pada anak mata, mengurangnya ketajaman mata dan akhirnya cenderung menjadi glukoma, katarak dan tumor. Tidak hanya itu, kemampuan mendengar, daya cium dan rasa juga menurun.
c.       Perubahan dalam keberfungsian fisiologis
Perubahan-perubahan pada tubuh bagian luar terjadi berbarengan dengan perubahan-perubahan pada organ dalam tubuh dan keberfungsiannya. Perubahan ini pada sebagian besar bagian tubuh, langsung atau tidak langsung diakibatkan perubahan jaringan tubuh. Seperti gelang karet yang tua, dinding saluran arteri menjadi rapuh dengan bertambahnya usia. Keadaan tersebut dapat menimbulkan kesulitan sirkulas. Meningkatnya tekanan darah, khususnya pada orang gemuk dapat menyebabkan komplikasi jangtung.
d.      Perubahan dalam kesehatan
Usia madya ditandai dengan menurunnya kesegaran fisik secara umum dan memburuknya kesehatan. Dimulai pada usia pertengahan empat puluh tahunan, terdapat peningkatan ketidakmampuan dan ketidakabsahan yang belangsung dengan cepat.
e.       Perubahan dalam seksual
Sejauh ini penyesuaian, fisik yang paling sulit dilakukan oleh pria maupun wanita pada usia madya terdapat pada perubahan-perubahan pada kemampuan seksual mereka. Wanita memasuki masa menopouse atau perubahan hidup dimana masa menstruasi berhenti, dan mereka kehilangan kemampuan memelihara anak. Sedangkan pria mengalami masa klimakterik pria.
3)      Tugas-tugas yang berhubungan dengan perubahan-perubahan minat, sehingga   memungkinkan orang-orang setengah baya untuk memperoleh tanggungjawab kewarganegaraan dan sosial, dan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu luang atau kegiatan-kegiatan yang diselaraskan dengan tingkat perkembangan orang dewasa ini yang mengutamakan pengisi waktu luang yang bersifat ” family-oriented.” Family-oriented tadi melebihi keadaan selama tahun-tahunpermulaan masa dewasa. Perubahan minat yang ada pada masa usia madya, terjadi sebagai akibat dari perubahan tugas, tanggung jawab, kesehatan, dan peran dalam hidup. Konsentrasi pria pada bidang pengenbangan kerja pada umumnya memainkan peran penting dalam menekan keinginan mereka disbanding pada masa relative yang masih muda. Orang yang berusia madya sering kali mengasumsikan tanggung jawab warga nergara dan social, serta mengembangkan minat pada kedewasaan, pada tenpat-tenpat kegiatan yang brorientasi pada keluarga yang biasa dilakukan pada masa dewasa dini.
4)      Tugas-tugas perkembangan yang berhubungan dengan penyesuaian-penyesuaian jabatan-pekerjaan yang dapat memungkinkan seseorang untuk meantapkan  dan memelihara suatu kestabilan standar kehidupan ekonomis bagi keluarga.
5)      Tugas-tugas yang berhubungan dengan kehidupan keluarga; dengan pengutamaan menciptakan hubungan diri dengan suami atau isteri sebagai pribadi ( dalam persahabatan akrab ), menyesuaikan diri dengan kehidupan orangtua yang sudah lanjut usia, dan membantu anak-anak remajanya untuk menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab dan bahagia.
2.      Tugas Perkembangan Setengah Baya Menurut Erikson
            Masa dewasa merupakan fase generativitas  (menciptakan) yang selalu dihadapkan pada adanya stagnasi. Masa ini ditandai dengan adanya perhatian yang tercurah pada anak-anak, keahlian produktif, keluarga, dan pekerjaan. Sifat mengasuh pada wanita tampak sangat dominan. Pada masa tua ini adalah kebijaksanaan dan pelepasan.
3.      Tugas Perkembangan Menurut Havighurst
            Pada masa ini, tugas-tugas yang harus dituntaskan adalah menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologik, pasangan dipandang sebagai person menolong anak-anak muda menjadi dewasa, mencapai tanggung jawab sosial dan warga negara secara penuh, mencapai dan mempertahankan standar hidup ekonomis, dan merealisasikan kesantaian secara sesuai.
D.    Bahaya Personal (Pribadi)  dan Sosial bagi Orang Dewasa Madya
            Bahaya sosial dan pribadi yang paling besar bagi mereka yang berusia madya timbul karena kecenderungan untuk menerima pendapat umum klise tentang kebudayaan bahwa orang usia madya biasanya mulai gemuk dan botak. Karena kurangnya informasi ilmiah tentang usia madya, banyak kepercayaan tradisional dan budaya klise tetap dipegang. Akibatnya, perilaku mereka menjadi serius.
            Akan tetapi, selama penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial dapat menerima kepercayaan tradisional dan budaya yang klise tersebut, orang tidak semata-mata mengartikan hal tersebut sebagai bahaya saja. Beberapa bahaya sosial dan pribadi dianggap penting sehingga orang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri.
1.      Bahaya Personal
a)      Diterimanya kepercayaan tradisional tentang ciri-ciri usia madya mempunyai pengaruh yang sangat mendalam terhadap perubahan perilaku fisik yang terjadi seiring bertambahnya usia. Seseorang yang mengalami menopause misalnya sering disebut sebagai masa kritis (critical period), kepercayaan seperti ini dapat menambah rasa takut yang tidak menentu, seperti dikatakan oleh Parker (1980)
Masa tersebut membawa implikasi yang berbahaya, karena mejadikan wanita merasa bahwa kesehatannya, kebahagiaanya, hidupnya merasa hancur dan merasa paling berbahaya. Tidak secara langsung hal itu mengatakan bahwa situasi menopause bukan saja masa kritis yang dapat dengan tiba-tiba menghilang, tetapi merupakan periode yang terasa amat panjang dengan jaminan keselamatan yang sangat minim, dimana setiap saat dapat jatuh ke dalam jurang kehancuran mental atau penyakit jiwa yang serius.
b)      Idealisasi Anak Muda. Banyak orang usia madya khususnya kaum pria secara konstan menentang pengelompokan usia dalam pola perilaku umum. Seperti anak menjelang akil balik, mereka juga tidak mau dibatasi perilakunya. Begitu juga orang berusia madya, mereka juga tidak mau dibatasi perilaku dan kegiatannya. Sikap memberontak berasal dari pengenalan terhadap nilai bahwa masyarakat mengikat anak muda dan karena itu mereka menentang terhadap setiap bentuk pembatasan, ini berarti mereka sedang tumbuh menjadi lebih tua. Kondisi semacam ini menyebabkan mereka yang berusia madya menderita biasa atau lebih serius seperti yang dijelaskan oleh streincrohn (1992).
Wanita yang mempunyai kemampuan penyesuaian diri paling buruk adalah mereka yang sering terikat dengan pentingnya faktor penampilan yang keremaja-remajaan dan mengagumi keperkasaan. Apabila mereka dipaksa untuk mengaca diri bahwa mereka tidak menarik seperti dulu lagi, sehingga mereka tidak lagi dapat menarik perhatian pria ungkin mereka berontak sebagai orang yang berusia madya.
Apabila penyesuian diri dalam usia madya tidak bagus, yang biasanya ditandai dengan keluhan dan penolakan yang terus menerus terhadap perubahan fisik yang tidak dapat dihindari karena faktor usia, maka orang secara intensif tertarik pada dandanan dan pakaian. Baimpria maupun wanita pada umumnya berkonsentrasi pada pemilihan pakaian yang dapat menimbulkan kesan bahwa ia nampak lebih muda dibandingkan sebelumnya.
c)      Perubahan Peran. Mengubah peran bukanlah masalah mudah, terutama setelah seseorang telah memainkan peran tertentu selama periode waktu yang relatif lama dan telah belajar memperoleh kepuasan dari peran tersebut. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa terlalu berhasil dalam suatu peran nampaknya dapat mengakibatkan kekakuan sehingga proses penyesuaian terhadap peran lain akan menjadi sulit. Untuk dapat menyesuaikan dengan baik dengan peran yang baru, seseorang harus dapat berbuat seperti yang dikatakan oleh Havighurst : “menghilangkan emosi yang selama ini diterapkan dalam peran tertentu dan memanfaatkannya pada kesempatan yang lain”.
d)     Perubahan Keinginan dan Minat.Bahaya besar dalam penyesuaian diri seseorang pada usia madya timbul karena ia mau tidak mau harus mengubah keinginan dan minatnya sesuai dengan tingkat ketahanan tubuh dan kemampuan fisik serta memburuknya tingkat kesehatan fisik. Mereka mau tidak mau harus mencoba untuk mencari dan mengembangkan keinginan baru sebagai pengangganti keinginan lama yang biasa dilakukan, atau jauh hari sebelum masa madya tiba mereka telah mengembangkan keinginan baru tersebut yang cukup menarik sehingga dapat membebaskannya dari perasaan tertekan dan tidak enak karena kehilangan keinginan yang biasanya dilakukan. Apabila hal ini tidak dilakukan mereka akan merasa bosan dan bingung karena mereka tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan waktu yang begitu banyak. Seperti seorang dewasa yang menjadi bosan pada waktu mereka harus mencari berbagai kegiatan dan keinginan untuk mengisi waktu yang begitu banyak.
e)      Simbol status. Kebanyakan dewasa madya memiliki respon yang besar terhadap simbol status, hal tersebut merupakan tanda betapa besar keinginan seorang untuk
memperoleh symbol status. Sikap seperti ini dapat menimbulkan percekcokan dengan keluarga, dan bersikap tidak menyenangkan. Karena ia sadar hal itu tidak mungkin ia peroleh.
f)       Aspirasi yang tidak Realistis. Orang berusia madya yang mempunyai keinginan yang tidak realistis tentang apa yang ingin dicapai, akan menghadapi masalah yang serius dalam proses penyesuaian diri dan social, apabila ia kelak menyadari bahwa ia tidak bias mencapai tujuan tersebut. Sikap tidak realistis ini sering merupakan faktor bawaan sejak masa remaja. Bahaya ini merupakan efek langsung bagi pria, sedangkan bagi kaun wanita merupakan efek tidak langsung apabila suaminya gagal atau tidak mampu untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Walaupun wanita cenderung mempunyai aspirasi yang lebih realistis dibanding pria, ia mungkin sadar bahwa tidak mungkin untuk mencapai cita-cita nya karena waktu yang berlalu begitu cepat. Kegagalanuntuk mencapai setiap cita-cita dan keinginan menimbulkan perasaan tidak enak dan rendah diri, yaitu perasaan yang biasanya dapat mengakibatkan kegagalan yang semakin parah.
2.      Bahaya Sosial
            Ada beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi penyesuaian social pada masa usia madya. Kondisi ini umumnya dibawa secara bertahap sejak seseorang masih muda, terutama pada waktu seseorang berusia remaja dan dewasa muda. Itulah sebabnya menyapa orang pada masa mudanya tidak memiliki kemampuan penyesuaian social dengan cara yang baik sehingga pada waktu ia berusia madya hasilnya akan sama saja.
       Penyesuaian sosial yang buruk pada masa tersebut, merupakan bahaya, karena semakin bertambah usia seseorang maka ia akan semakin bergantug pada orang lain, terutama orang yang suami atau isterinya telah meninggal, sedang anak-anaknya sibuk dengan keluarga masing-masing. Orang usia madya yang tidak dapat mengikuti perkembangan penting untuk memegang tanggung jawab sosial dan tanggung jawab sebagai warga Negara di masa tuanya hidupnya akan terasa kesepian dan tidak bahagia sehingga mengakibatkan ia terlambat dalam proses penyesuian socialnya.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            Masa Dewasa Madya adalah masa peralihan dewasa yang berawal dari masa dewasa muda yang berusia 40- 65 tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru.      Adapun ciri-ciri / karakteristik dari perkembangan masa setengah baya adalah masa yang ditakuti, masa transisi, masa penyesuaian kembali, masa keseimbangan dan ketakseimbangan, usia berbahaya, masa berprestasi, usia kaku atau canggung, usia madya dievaluasi dengan standar ganda, usia madya merupakan masa sepi, usia madya merupakan masa jenuh.
            Menurutt Hurlock, secara kasar , tugas-tugas perkembangan bagi setengah baya dapat
digolongkan dalam empat bagian besar yakni tugas-tugas yang berkaitan dengan perubahan fisik, tugas-tugas yang berhubungan dengan perubahan-perubahan minat, tugas-tugas perkembangan yang berhubungan dengan penyesuaian-penyesuaian, tugas-tugas yang berhubungan dengan kehidupan keluarga. Bahaya personal (pribadi)  dan sosial bagi orang dewasa madya meliputi bahaya personal dan bahaya sosial.
DAFTAR PUSTAKA

Sunardi Nur, Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007
Harlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan dalam Suatu Rentang      Kehidupan. Jakarta: Erlangga,1994
Sobur, Alex. Psikologi Umum,  Bandung : Cita Pustaka Setia, 2009
http://allabout-psikologi.blogspot.com/2013/8/dewasa-madya.html (diakses tanggal 2/05/2014)


http://yurikamaha.blogspot.com/2014/04/psikologi-perkembangan-usia-dewasa-madya.html           (diakses tanggal 2/05/2014)

Comments

Popular posts from this blog

Tugas UAS Pengembangan Silabus PAI

PERMENDIKBUD NO 54, 65, 66, 67 TAHUN 2013 TENTANG KURIKULUM 13 A.     PERMENDKKBUD NO 54 TAHUN 2013 T ENTANG STANDAR KOPETENSI KELULUSAN Berkaitan dengan rencana pemberlakuan Kurikulum 2013,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menerbitkan peraturan baru yang  mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan.  Dalam peraturan tersebut antara lain dikemukakan bahwa: Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Sta...

MAKALAH INPUT, PROSES, OUTPUT DAN OUTCOME PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang untuk memdewasakan manusia atau meningkatkan potensi dan kecerdasan manusia baik untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam pendidikan ada yang dinamakan input, proses, output dan outcome. Keempat aspek tersebut sangat penting dan saling berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga keempat aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Mengingat pentingnya pendidikan, banyak pendidik ataupun peserta didik yang tidak memperhatikan dan memahami input, proses, output dan outcome sehingga pendidik tidak mampu membuat peserta didiknya move on menuju arah lebih baik lagi. Dengan alasan ini, dirasa perlu untuk membahas tentang input, proses, output dan outcome untuk lebih memaknai hakikat belajar.         B. ...

MAKALAH ETIKA TEMAN SEJAWAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahawa “Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.” Ini berarti bahwa: (1) Guru hendaknya menciptakan dan memlihara hubngan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya. Dalam hal ini Kode Etik Guru Indonesia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perilaku diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota profesi. Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan formal dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal ialah hubungan yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menun...