BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
“Berpikir dan berbuat sesuai dengan
masyarakatnya”. Sebuah kalimat sederhana namun bermakna yang secara tak
langsung menyinggung bahwa sekolah tak dapat berdiri terpisah dari masyarakat,
dimana banyak hal yang dilakukan untuk membawa sekolah kemasyarakat atau
sebaliknya. Dengan demikian, idealnya adalah jika kurikulum dijalankan sesuai
dengan/bergantung pada fungsi sekolah dalam masyarakat, yaitu apakah untuk
mengawetkan kebudayaan dengan menyampaikannya kepada generasi muda, mengubah
masyarakat ataukah mengembangkan individu.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa itu Kurikulum Berbasis Masyarakat?
2. Bagaimana karakteristik Kurikulum
Berbasis Masyarakat?
3. Bagaimana pengembangan Kurikulum
Berbasis Masyarakat?
C.
Tujuan
1. Apa itu Kurikulum Berbasis Masyarakat?
2. Bagaimana karakteristik Kurikulum
Berbasis Masyarakat?
3. Bagaimana pengembangan Kurikulum
Berbasis Masyarakat?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kurikulum Berbasis Masyarakat
Kurikulum berbasis masyarakat merupakan kurikulum
yang menekankan perpaduan antara sekolah dan masyarakat guna mencapai tujuan
pengajaran. Kurikulum ini pula memiliki tujuan memberikan kemungkinan kepada
siswa untuk akrab dengan lingkungan dimana mereka tinggal, mandiri dan bekal
keterampilan.
Karakteristik kurikulum berpusat kepada masyarakat
ditinjau dari segi pembelajaran baik berorientasi, metode, sumber belajar,
strategi pengajaran berpusat pada kepentingan siswa sebagai bekal hidup di masa
mendatang. Karakteristik lain dari materi pembelajaran sesuai tuntutan
kewilayahan maka disebut juga kurikulum berbasis kewilayahan. Sedangkan
kegiatan guru hanyalah sebagai fasilitator belajar dan siswa untuk aktif,
kreatif untuk memecahkan permasalahan. Pengembangan kurikulum bertitik tolak
dari tujuan pendidikan, analisis kebutuhan, implementasi kurikulum, seleksi
strategi pembelajaran, teknik evaluasi dan evaluasi program kurikulum.
Kurikulum berbasis masyarakat, bahan dan objek
kajiannya menyesuaikan kebijakan dan ketetapan yang dilakukan di daerah,
disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam, sosial, ekonomi, budaya dan
disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang perlu dipelajari oleh
siswa di daerah tersebut. Bagi siswa berguna untuk memberikan kemungkinan dan
kebiasaan utnuk akrab dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Kemungkinan lain
mencegah dari keterasingan lingkungan, terbiasa dengan budaya dan adat istiadat
setempat dan beusaha mencintai lingkungan hidup, sehingga sebuta kurikulum ini
disebut kurikulum berbasis wilayah. Berdasarkan teori berbasis masyarakat
beberapa teori kurikulum ini setuju bahwa tingkat sosial harus menjadi titik
awal dan penentu utama kurikulum.
Tujuan kurikulum baerbasis masyarakat adalah:
1. Memperkenalkan siswa terhadap lingkungannya,
ikut melestarikan budaya termasuk kerajinan, keterampilan yang dinilai
ekonominya tinggi di daerah tersebut.
2. Membekali siswa kemampuan dan
keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup dimasyarakat, seandainya mereka
tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
3. Membekali siswa agar hidup mandiri,
serta dapat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kurikulum berbasis masyarakat memiliki beberapa keunggulan/kelebihan,
antara lain:
1. Kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan masyarakat setempat.
2. Kurikulum sesuai dengan tingkat dan
kemampuan sekolah, baik kemampuan finansial, profesional maupun manajerial.
3. Disusun oleh guru-guru sendiri dengan
demikian,, sangat memudahkan dalam pelaksanaannya.
4. Ada motivasi kepada sekolah khusus
kepala sekolah dan guru kelas untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakan
kurikulumyang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi
dalam pengembangan kurikulum.
Ada baiknya studi NIER (l999: 21-22) menjelaskan
yang menjadi fokus dan perhatian utama masyarakat dalam kebijakan pendidikan
yang ditempuh dalam suatu negara, yaitu:
a. Fokus sektor pembangunan keterpaduan
sosial dan identitas nasional dalam percaturan global haanya untuk
mempertahankan cultural heritage
b. Fakus pada pembinaan budaya, etnis, dan
nilai-nilai moral
c. Fokus pada pengembangan ekonomi masa
depan, dan persaingan global/internasional
d. Fokus pada persamaan kesempatan dalam
bidang gender, disabilites, income
e. Fokus pada upaya untuk meningkatkan
pencapaian siswa.
Sedangkan organisasi kurikulum, (NIER, l999)
melaporkan bahwa secara umum ada tiga pendekatan kurikulum nasional yang
ditempuh:
a. Pendekatan yang bercirikan isi atau
topik (content or topic based curriculum), yaitu sajian kurikulum yang berupa
sebaran materi/topik sesuai dengan mata pelajaran.
b. Pendekatan yang bercirikan pendekatan
kompetensi (outcome based curriculum), yaitu sajian kurikulum berdasarkan
outcome dan kompetensi yang sepatutnya dicapai oleh para peserta didik.
c. Paduan antara content/topic based dan
outcome based.
Dalam perspektif nasional, pengembangan kurikulum
nasional ada kecenderungan saat ini adanya pergeseran dari kuriklum yang
memiliki ciri “contend or topic based” ke kurikulum yang bercirikan “outcome or
competence based”, seperti direfleksikan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Secara filosofis, pendidikan merupakan kebutuhan dan
hak setiap manusia dalam mempersiapkan kehidupannya yang lebih baik di masa
mendatang. Dengan demikian pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kepribadian,
sikap dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dan pendidikan lebih
lanjut. Secara nasional, perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam
kehidupan bermasyarakat, berrbangsa dan bernegara merupakan hal-hal yang harus
segera ditanggapi dalam menyikapi penyelenggaraan pendidikan dasar.
Ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam
kajian pengembangan dan implementasi pendidikan dasar di tanah air. Pertama,
dengan diluncurkannya beberapa peraturan perundang-undangan termasuk RUU
tentang sistem pendidikan Nasional, membawa implikasi terhadap paradigma
pendidikan nasional termasuk didalamnya layanan pendidikan dasar.
Kedua, dengan perkembangan dan perubahan global
dalam berbagai aspek kehidupan yang begitu cepat telah menjadi tantangan
nasional dan menuntut perhatian serius dan segera mendapatkan langhah dan
program pemecahannya. Ketiga, dengan kondisi masa sekarang dan kecnderungan
dimasa yang akan datang perlu dipersiapkan generasi muda termasuk peserta didik
yang memiliki kompetensi yang multi dimensional.
B.
Karakteristik Kurikulum Berbasis Masyarakat
Model pengajaran yang berpusat pada
masyarakat adalah suatu bentuk kurikulum yang memadukan antara sekolah dan
masyarakat dengan cara membawa sekolah ke dalam masyarakat atau membawa
masyarakat ke dalam sekolah guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan. Hamalik (2005) merinci karakteristik kurikulum berbasis pada
masyarakat meliputi:
1. Karakteristik pembelajaran pada
kurikulum berbasis masyarakat:
a. Pembelajaran beroreantasi pada masyarakat,
di masyarakat dengan kegiatan belajar bersumber pada buku teks
b. Disiplin kelas berdasarkan tanggungjawab
bersama bukan berdasarkan paksaan atau kebebasan
c. Metode mengajar terutama dititikberatkan
pada pemecahan masalah untuk memenuhi kebutuhan perorangan dan kebutuhan sosial
atau kelompok
d. Bentuk hubungan atau kerjasama sekolah
dan masyarakat adalah mempelajari sumber-sumber masyarakat, menggunakan
sumber-sumber tersebut, dan memperbaiki masyarakat tersebut
e. Strategi pembelajaran meliputi
karyawisata, manusia (nara sumber), survai masyarakat, berkemah, kerja
lapangan, pengabdian masyarakat, kuliah kerja nyata, proyek perbaikan
masyarakat dan sekolah pusat masyarakat.
2. Karakteristik materi pemebelajaran
Agar penjabaran dan penyesuaian dengan
tuntutan kewilayahan tidak meluas dan melebar, maka perlu diperhatikan kriteria
untuk menyeleksi materi yang perlu diajarkan, kriteria tersebut antara lain:
a. Validitas, telah teruji kebenaran dan
kesahihannya
b. Tingkat kepentingan yang benar-benar
diperlukan oleh siswa
c. Kebermanfaatan, secara akademik dan non
akademik sebagai pengembangan kecakapan hidup (life skill) dan mandiri
d. Layak dipelajari, tingkat kesulitan dan
kelayakan bahan ajar dan tuntutan kondisi masyarakat sekitar
e. Menarik minat, dapat memotivasi siswa
untuk mempelajari lebih lanjut dengan menumbuhkembangkan rasa ingin tahu
f. Alokasi waktu, penentuan alokasi waktu
terkait dengan keleluasan dan kedalaman materi
g. Sarana dan sumber belajar, dalam arti
media atau alat peraga yang berfungsi mermberikan kemudahan terjadinya proses
pembelajaran..
3. Kegiatan siswa dan guru
Kegiatan siswa, mestinya mempertimbangkan
pemberian peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah dan menemukan sendiri
pengetahuan, di bawah bimbingan guru. Juga materi pembelajaran dipilih haruslah
yang dapat memberikan pembekalan kemampuan/kecakapan kepada peserta didik untuk
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan mempunyai kecakapan hidup
atau dapat hidup mandiri dengan menggunakan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang telah dipelajari.
Guru dalam kurikulum berbasis pada
masyarakat berperan sebagai fasilitator, sumber belajar, pembina, konsultan,
sebahai mitra kerja yang memfasilitasi siswa dalam pemebelajaran. Sehingga
menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan, dan keterampilan yang
kuat untuk digunakan dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan
sosial, budaya, dan alam sekitar, serta mengembangkan kemampuan lebih lanjut
dalam gunia kerja atau pendidikan lebih lanjut
4. Penilaian dalam kurikulum berbasis pada
masyarakat
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan
untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menaksirkan data tentang proses dan hasil
belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian ini
dilakukan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, oleh karena itu
disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK ini dilakukan dengan mengunpulkan
kerja siswa (fortofolio), hasil karya (penugasan), kinerja (performance), dan
tes tertlis. Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan
tingkat pencapaian prestasi siswa selama dan setelah kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan karakteristik kurikulum
berbasis masyarakat, maka pada hakekatnya karakteristik tersebut dapat dijabarkan
menjadi beberapa karakteristik lain sebagai berikut:
a. kurikulum bersifat realistik, karena
hal-hal yang dipelajari bersumber dari kehidupan yang nyata. Para siswa dapat
mengamati kenyataan sesungguhnya dalam masyarakat dan kehidupan masyarakat yang
bersifat kompleks. Pengajaran ini pada gilirannya akan mengembangkan berbagai
pengalaman dan pengetahuan yang praktis dan terpakai.
b. Kurikulum menumbuhkan kerjasama dan
integrasi antara sekolah dan masyarakat, karena sekolah masuk dalam masyarakat
dan masyarakat masuk dalam ingkungan sekolah. Lingkungan sekolah sebagai
barometer kondisi masyarakat. Karena itu strategi yang tepat adalag karyawisata
dan manusia sumber belajar dari masyarakat merupakan kesempatan yang sangat
efektif bagi siswa dalam rangka perpaduan antara kedua institusi tadi. Dengan
demikian kesenjangan antara sekolah dan masyarakat yang terjadi selama ini
dapat diminimalisir.
c. Kurikulum berbasis masyarakat memberikan
kesempatan yang luas kepada siswa untuk belajar secara aktif penuh kreativitas
yang telah dianjurkan oleh teori belajar modern. Para siswa merencanakan sendiri,
mencari referensi dan sumber informasi sendiri, melakukan kegiatan proyek sendiri
dan memecahkan berbagai masalah sendiri, baik melalui belajar individual maupun
belajar secara kelompok.
d. Prosedur pembelajaran memberdayakan semua
metode dan teknik pembelajaran secara sistematik dan bervareasi. Seperti ceramah,
diskusi kerja kelompok, presentasi, pameran baik belajar di dalam kelas maupun
di luar kelas. Strategi pembelajaran ditata sedemikian rupa secara vareatif
dalam rangka pembelajaran multi sistem seperti ada tatap muka, tudas mandiri,
survai dan observasi.
e. Pengembangan kurikulum berbasis
masyarakat membantu siswa agar mampu berperan dalam kehidupan sekarang ini. Artinya
hal-hal yang telah ada dipelajari sehingga berdaya guna dan berhasil guna untuk
menghadapi tantangan yang ada dewasa ini. Rumusan kurikulum ini memberikan
pandangan bahwa hasil pendidikan di sekolah itu dapat diterapkan di lingkungan
siswa tempat mereka tinggal. Jadi pendidikan seperti ini sebenarnya membekali
siswa hidup di lingkungan masyarakat menjadi lebih berguna. Pendapat ini
dilandasi asumsi bahwa setiap masyarakat mengalami perubahan yang cepat untuk
mengantisipasinya oleh kurikulum yang berbasis masyarakat.
f. Kurikulum berbasis masyarakat
menyediakan sumber-sumber belajar yang berasal dari masyarakat. Semua sumber di
masyarakat sebagai laboratorium untuk praktek sesuai kepentingan pembelajaran
siswa. Masyarakat secara keseluruhan memiliki berbagai dimensi seperti; keluarga,
teknologi, ekonomi, politik, budaya, sosial dan kehidupan macam lainnya. Dimensi-dimensi
tersebut masing-masing mengandung aspek manusiawi, kelembagaan, sistem
kehidupan, metode kerja, dan kondisi situasi dengan karakteristiknya sendiri.
C.
Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat
Karena pengaruh perkembangan teknologi terjadi
perubahan yang cukup drastic dalam
segala bidang termasuk pekerjaan. Masyarakat perkotaan berubah cepat dibandingkan masyarakat pedesaan. Pola
kehidupan agraris berubah menjadi pola kehidupan
industri, dimana kehidupan masyarakatnya menuntut memiliki spesialisasi dan profesionalisme dalam melakukan
pekerjaan. Sehingga sifat-sifat kebersamaan, hidup lebih santai diganti oleh sikap individualis dan kerja keras.
Pola kerja masyarakat modern menuntut kerja yang
tidak teratur melebihi waktu biasa.
Banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja akan mengubah citra penghasilan yang diperoleh. Asumsinya penghasilan
tinggi akibat suami-isteri bekerja akan meningkatkan
kemampuan ekonomi dan kesejahtraan keluarga. Namun dalam kehidupan keluarga, anak mempunyai masalah
selalu ditinggal orang tuanya bekerja maka anak lebih lama berhaul dan hidupnya dengan pembantu daripada dengan
orang tuanya. Kondisi demikian
berbagai masalah keluarga timbul dikarenakan pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga tidak berjalan,
seperti hubungan komunikasi diantara anggota keluarga sangat terbatas malahan mungkin hilang.
Komponen-komponen kurikulum berbasis masyarakat
meliputi:
a.
Tujuan
dan filsafat pendidikan dan psikologi belajar
b.
Analisis
kebutuhan masyarakat sekitar termasuk kebutuhan siswa
c.
Tujuan
kurikulum (TUK dan TKK)
d.
Pengorganisasian
dan implementasi kurikulum
e.
Tujuan
pembelajaran (TPU dan TPK)
f.
Strategi
pembelajaran mencakup model-model pembelajaran
g.
Teknik
evaluasi (proses dan produk)
h.
Implementasi
strategi pembelajaran
i.
Penilaian
dalam pembelajaran dan
j.
Evaluasi
program kurikulum
Beroreantasi pada komponen-komponen kurikulum
berbasis masyarakat tersebut, maka
langkah-langkah pengembangannya terdiri dari:
Langkah
l : Penentuan tujuan pendidikan berdasarkan filsafat dan psikologi pendidikan juga berdasarkan spesifikasi kebutuhan
masyarakat dan kebutuhan siswa
Langkah
2 : Analisis kebutuhan masyarakat sekitar, siswa dan mata ajar
Langkah
3 : Spesifikasi tujuan kurikulum baik tujuan umum maupun tujuan khusus
Langkah
4 : Pengorganisasian dan implementasi kurikulum dan struktur program
Langkah
5 : Spesifikasi tujuan pengajaran termasuk TPU dan TPK
Langkah
6 :Seleksi strategi pembelajaran meliputi kegiatan, model, dan metode pembelajaran
Langkah
7 : Seleksi awal teknik evaluasi
Langkah
8 : Seleksi final teknik evaluasi (langkah ini dilakukan setelah langkah 5)
Langkah
9 : Implementasi strategi pembelajaran secara aktual
Langkah
10 : Evaluasi pengajaran untuk menilai keberhasilan siswa dan efektivitas pembelajaran
dan perbaikan evaluasi
Langkah
11 : Evaluasi program kurikulum
DAFTAR PUSTAKA
Suherman,
Ayi, Buku Elektronik, Inovasi
Kurikulum
Comments
Post a Comment