BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam
sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas,
individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan
kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi
pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi
tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi
dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab,
terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.
Hidup
yang baik dan bagaimana hidup dengan baik pastilah telah lama menjadi bahan
pemikiran manusia. Hampir tidak mungkinlah manusia tidak menghadapi dua
pernyataan fundamental dari hidupnya, yakni “dari mana asalnya” dan “kemana ia
harus menuju”. Sejauh pengetahuan kami, soal asal mula tujuan hidup di
Indonesia ini juga telah menjadi pokok pembicaraan pada pemikir bangsa. Garis
besar pemikira mereka ialah bahwa manusia tidak bisa hidup begitu saja, ia
mesti mengerti hakikat hidupnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan Etika Pragmatis Dalam Pendidikan Islam?
2.
Apa yang dimaksud
dengan Positivisme Dalam Etika Keilmuan?
3.
Bagaimana Etika
Keilmuan Pada Zaman Renaissance dan Humanisme?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui
tentang Etika Pragmatis Dalam Pendidikan Islam
2. Mengetahui tentang
Positivisme Dalam Etika Keilmuan
3. Mengetahui tentang
Etika Keilmuan Pada Zaman Renaissance dan Humanisme
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Etika Pragmatis Dalam Pendidikan Islam
Etika
keilmuan diatur menurut nilai-nilai dan etika pramatisme. Pragmatisme berasal
dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria
kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan
nyata.
Pragmatisme
berpandangan bahwa substansi kebenaran adalah jika agama memberikan
kebahagiaan. Pendidika agama Islam adalah bagian dari tugas agama maka
mengajarkan pendidikan Agama Islam merupakan kebenaran. Pragmatisme juga
menilai manfaat suatu perbuatan dari dampak materil yang ditimbulkannya, misalnya
lembaga pendidikan dibangun dengan tujuan memperoleh keuntungan materil dari
sumbangan orang tua murid dan dari pemerintah.
Dalam
filsafat pendidikan Islam, pragmatisme tentu ada karena tujuan pendidikan Islam
adalah membentuk anak didik yang bertaqwa kepada Allah, berkepribadian luhur,
berilmu pengetahuan luas, terampil, dan dapat diamalkan dalam kehiduan
sehari-hari. Dengan tujuan itulah, pragmatisme menegaskan bahwa pendidikan
Islam diberikan kepada anakdidik agar memilki keahlian duniawi dan ukhrawi.
Keduanya harus memberikan keuntungan.
Filsuf
yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John
Dhewey. William James lahir di New York Citty pada tahun 1842. Pandangan
filsafatnya, diantaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku
umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal.
Sebab, pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam
perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah karena di dalam praktik, apa
yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Nilai konsep
atau pertimbangan kita bergantung pada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya
bergantung pada keberhasiln perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu.
Pertimbangan itu benar apabila bermamfaat bagi pelakunya. Memperkaya hidup dan
kemungkinan-kemungkinannya.
Dalam
filsafat pendidikan Islam, pragmatisme tentu ada karena tujuan pendidikan Islam
adalah membentuk anak didik yang bertakwa kepada Allah, berkepribadian luhur,
berilmu pengetahuan yang luas, terampil, dan dapat diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan tujuan itulah, pragmatisme menegaskan bahwa pendidikan
Islam diberikan kepada anak didik agar memiliki keahlian duniawi dan ukhrawi.
Keduanya harus membeikan keuntungan.
Tokoh
pragmatisme yang kedua adalah John Dewey. Sebagai pengikut filsafat
pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan
bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran
metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat
harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis.
Menurutnya,
tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika
mengalami kesulitan, segera berfikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena
itu, berpikir tidak lain dari alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari
pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya memengaruhi kenyataan.
Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk
mengetahui artinya yang sebenernya adalah metode induktif. Metode ini tidak
hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan
sosial dan moral.
Apabila
filsafat pendidikan Islam berkiblat pada pandangan pragmatisme John Dewey,
tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah segala sesuatu yang sifatnya
nyata, bukan hal yan diluar jangkauan pancaindra. Sebagaimana pendidikan Islam
yang dikembangkan oleh Fakultas Tarbiyah, tujuannya harus nyata, yaitu
melahirkan sarjana pendidik yang mampu menerapkan ilmu pendidikan agama Islam
dalam dunia pendidikan. Adapun aspek di luar tujuan yang real dapat
dikembangkan secara individual, misalnya pendidik yang berbudi luhur. Tujuan
ini untuk semua manusia, bukan hanya untuk pendidik, tetapi bagi pendidik
sangat diperlukan sikap dan mental yang berbudi luhur.
Etika
keilmuan berkaitan dengan kode etik bagi para pendidik. Akan tetapi, dalam perspektif
filsafat, pendidikan etika pendidikan itu membahas pula masalah yang berkaitan
dengan substansi etika yang dimiliki oleh dunia pendidikan Islam, terutama
berkaitan dengan hal-hal dibawah ini:
1. Keilmuan
yang bersumber kepada wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah
2. Keilmuan
yang berbasis kepada pola pendidikan tradisional Islam, seperti Pondok
Pesantren Salafiyah
3. Keilmuan
sebagai alat yang merumuskan prinsip-prinsip pendidikan dengan mempertimbangkan
istilah-istilah terminologi dalam Islam
4. Keilmuan
yang mengarahkan pendidikan kepada tujuan umum dalam beragama Islam, yaitu
tujuan utama pendidikan, yaitu tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk
anak didik yang beriman dan bertakwa. Tujuan ini merupakan tujuan umum dalam
Islam
5. Keilmuan
yang mengacu kepada doktrin agama Islam dan kebergantungan kepada tokoh agama,
kebesaran seorang pengasuh pondok pesantren dan khariismatik kyai.
Etika
keilmuan dalam pendidikan Islam di atas jumlahnya masih banyak karena etika
yang dipertahankan tidak akan mudah runtuh, apalagi pendidikan yang demikian
sebagai salah satu karakteristik mutlak dalam pendidikan Islam.[1]
B. Positivisme Dalam Etika Keilmuan
Paham
yang berkaitan dengan etika keilmuan dapat terlepas dari pandangan positivisme,
selain pragmatisme di atas. Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte
(1798-1857). Comte menguraikan secara singkat pendapat-pendapat positivis hukum
tiga stadia, klasifikasi ilmu-ilmu pengetahuan, dan bagan mengenai tatanan dan
kemajuan.[2]
Positivisme
berasal dari kata “positif:. Kata positif di sini sama artinya dengan faktual,
yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme pengetahuan kita
tidak boleh melebihi fakta-fakta.
Etika
keilmuan yang menganut positivisme akan mempertegas tentang kebenaran
pengetahuan terletak pada fakta-fakta yang konkret dan indrawi. Dengan
demikian, apabila pendidikan Islam menganut paham ini, tidak akan dibahas
segala hal yang berhubungan dengan kebenaran metafisikal, apalagi yang
supranatural. Aka tetapi, etika keilmuan yang dibangun oleh filsafat pendidikan
Islam tidak menganut paham positivisme, meskipun menerima kebenaran yang
menggunakan paham tersebut. Dalam Islam, kebenaran yang hakiki hanya kebenaran
Tuhan, selain kebenaran Tuhan, hanyalah kebenaran yang nisbi. Akan tetapi,
setiap kebenaran nisbi diyakini oleh umat Islam sebagai cara menuju kebenaran
hakiki.
Meskipun
menurut Comte yang memberikan istilah “positivisme”, gagasan yang terkandung
dalam kata itu bukan verasal dari dia, menurut kaum positivis, pandangan bahwa
masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian
empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya, sudah tersebar luas
di lingkungan intelektual pada masa Comte. Akan tetapi, kebanyakan kelompok
positivis berasal dari kalangan orang-orang progresif, yang bertekad
mencampakkan tradisi irasional dan memperbarui masyarakat menurut hukum alam
sehingga menjadi lebih rasional, Comte percaya bahwa penemuan hukum-hukum alam
itu akan membukakan batas-batas pasti yang (inherent) dalam kenyataan sosial, dan
melampaui batas-batas itu dengan usaha pembaruan akan merusakkan dan
menghasilkan yang sebaliknya. Skeptisisme Comte yang berhubungan dengan
usaha-usaha pembaruan besar-besaran serta penghargaan terhadap tonggak-tonggak
keteraturan sosial tradisional menyebabkan dia dimasukkan dalam kategori orang
konservatif.
Etika
keilmuan yang dibangun oleh Comte dengan positivisme memberikan pemahaman bahwa
puncak kebenaran dari pengetahuan adalah segala sesuatu yang empirik, dan
setiap dinamika dari kebenaran empirik itu bersifat progresif. Oleh karena itu,
substansi dari etika keilmuan sepantasnya menuju ke arah yang terus lebih baik
dan memiliki masa depan yang cerah.
Hukum
tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat
manusia dari masa primitif sampai peradaban Perancis abad kesembilan belas yang
sangat maju. Hukum ini, yang mungkin paling terkenal dalam gagasan-gagasan
teoretis pokok Comte, tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai
perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalu luas dan umum sehingga tidak
dapat benar-benar tunduk pada pengujian empiris secara teliti, yang menurut
Comte harus ada untuk membentuk hukum-hukum sosiologi.
Hukum
itu menyatakan bahwa umat manusi berkembang melalui tiga tahap utama.
Tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berfikir yang dominan teologis,
metafisik, dan positif. Lebih lagi, pengaruh cara berfikir yang berbeda-beda
ini meluas ke pola-pola kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat. Jadi,
watak struktur sosial masyarakat bergantung pada gaya epistimologisnya atau
pandangan dunia, atau cara mengenal dan menjelaskan gejala yang dominan.
Dalam
fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat sadar manusia, yakni
sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat singkatnya,
pengetahuan absolut mengendalikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan
langsung dari hal-hal supernatural.
Dalam
fase metafisik, yang hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal
budi mengandaikan bukan hal supernatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak,
hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi
yang dipersonifikasikan), dan yang mampu menghasilkan semua gejala.
Dalam
fase terakhir, yakni fase positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang
sia-sia terhadap pengertian-pengertian yang absolut, asal dan tujuan alam
semesta, serta sebab-sebab gejala, dan memusatkan perhatiannya pada studi
hukum-hukumnya yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak
berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana
pengetahuan ini”.[3]
Dari
pandangan Comte tentang tiga tahapan pemikiran manusia, dapat diambil pemahaman
bahwa etika keilmuan yang terus berkembang tidak selamnya hierarkis sistematis
sebagaimana yang dikemukakan oleh Comte sebab dalam ajaran Islam tidak dikenal
tahapan demikian. Pandangan manusia seharusnya didasarkan pada dua etika yang
paling mendasar, yaitu:
1. Pandangan
bahwa semua makhluk Allah hanya tunduk mutlak kepada Sang Pencipta. Oleh karena
itu, semua usaha manusia merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah
2. Semua
pengabdian manusia sepenuhnya harus didukung oleh rencana-rencana Allah yang
tertuang dalam wahyu-Nya, yang berupa wahyu tertulis (Al-Quran dan As-Sunnah)
dan wahyu yang tidak tertulis. Kedua wahyu tersebut memerlukan pemikiran
mendalam, rasional, dan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan manusia dan di
hadapan Allah.
Pada
zaman teologis, manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat
kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala tersebut. Kuasa ini
dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia,
tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi
daripada makhluk-makhluk insani biasa zaman teologis ini dibagi lagi menjadi
tiga periode, yaitu:
1. Animisme.
Tahap ini merupakan tahapan paling primitif karena benda-benda dianggap
mempunyai jiwa
2. Politisme.
Tahap ini merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini, manusia
percaya pada dewa yang menguasai suatu lapangan tertentu misalnya dewa lat,
dewa gunung, dewa halilintar, dan sebagainya.
3. Monoteisme.
Tahap ini lebih tinggi daripada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap ini,
manusia hanya memandang satu Tuhan sebagai penguasa.
Pada
metafisis, kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip yang
abstrak, seperti “kodrat” dan “penyebab”. Metafisika pada zaman ini dijunjung
tinggi.
Adapun
zaman positivis adalah zaman yang dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari
kehidupan manusia. Alasannya ialah pada zaman ini tidak lagi ada usaha manusia
untuk mencari penyebab yang terdapat di belakang fakta-fakta.
Pada
zaman terakhir inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Ilmu pengetahuan tidak semuanya mencapai kematangan yang sama pada saat yang
bersamaan. Oleh karena itu, perkembangan ilmu penetahuan dapat dilukiskan
berdasarkan rumitnya bahan yang dipelajari di dalamnya. Positivisme adalah
aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sedangkan sesuatu yang
di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu
pengetahuan.[4]
C. Etika Keilmuan Pada Zaman Renaissance Dan Humanisme
Istilah
Renaissance berasal dari bahasa Prancis yang berarti kebangkitan kembali. Para
sejarawan menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan berbagai periode
kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. Orang yang pertama
menggunakan istilah tersebut adalah Jules Michelet, seorang sejarawan Perancis
yang terkenal. Menurutnya, Renaissance ialah period penemuan manusia dan dunia,
bukan sekedar kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern.
Awal
mula suatu masa baru ditandai oleh suatu usaha besar dari Descartes (1596-1650
M) untuk memberikan suatu bangunan yang baru kepada filsafat. Dalam bidang
filsafat, zaman Renissaince kurang menghasilkan karya penting bila dibandingkan
dengan bidang sains.
Sejak
saat itu, dan telah dimulai sebelumnya, yaitu sejak permulaan Renaissance,
individualisme dan humanisme telah dicanangkan. Descartes memperkuat idea-idea
ini. Humanisme dan individealisme merupakan ciri Renaissance yang penting. Pada
abad pertengahan, manusia di anggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran
diukur berdasarkan ukuran dari Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang
dibuat oleh manusia.
Humanisme
sesungguhnya telah mengambil moral kemanusiaan seluruhnya dari agama. Humanisme
menyatakan bahwa pendidikan spiritual dan menepati janji, dalam nisbatnya
dengan keutamaan-keutamaan moral, dapat dicapai tanpa keyakinan terhadap Tuhan.
Manusia
adaah makhluk yang memiliki nilai-nilai asli (bawaan) dalam alam fisik. Ia
memiliki esensi yang khas, yang merupakan makhluk atau fenomena kekecualian dan
mulia. Sebab, dia mempunyai kehendak, dan berada dalam alam sebagai “penyebab
yang mandiri”. Manusia mempunyai kemampuan menentukan pilihan dan menciptakan
masa depannya sebagai usaha menentang nasib yang ditentukan oleh alam.
Dengan
sosok seperti ini, manusia adalah makhluk yang selalu mengejar cita-cita dan
berusaha mengubah “apa yang ada” menjadi “apa yang semestinya”, atau “apa yang
kini ada” menjadi “apa yang seharusnya ada”, di dalam alam, masyarakat, dan
dirinya sendiri pula. Perubahan-perubahan tersebut memberinya keyakinan tentang
adanya perubahan menuju kesempurnaan.
Dengan
pandangan di atas, etika keilmuan yang dibangun di atas paham humanisme adalah
etika meterialisme karena sesungguhnya manusia adalah materi, yang dalam paham
meterialisme, kehidupan manusia akan berakhir sebagaimana benda lainnya, hanya
keberakhiran materi yang merupakan perubahan yang abadi. Oleh sebab itu, tidak
ada kehancuran, yang ada hanyalah perubahan.
Dalam
pendidikan Islam dikenal etika keilmuan dengan paham humanisme, tetapi dalam
pandangan Islam humanisme yang dimaksudkan adalah tentang kemuliaan manusia
karena Allah memuliakannya, sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Tin ayat
4-5:
لَقَدْ خَلَقْنَا ا لاِ نْسنَ فِيْ اَ
حْسَنِ تَقْوِ يم. ثُمَّ رَ دَ دْ نهُ اَ سْفَلَ سَا فِلِيْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudan, kami kembalikan
dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)” (Q.S. At-Tin:
4-5)
Ayat
tersebut menyatakan bahwa secara genetis manusia diciptakan dengan kreativitas Tuhan
yang terbaik, tetapi sebaik apapun fisik manusia, ia akan mengalami kerusakan,
bahkan derajatnya yang tinggi pun akan menjadi sangat rendah.
Yang
menyebabkan kemuliaan manusia terjaga dan harkat martabatnya tetap tinggi
adalah keilmuannya yang dapat membangun keimanan dan ketakwaan, sebagaimana
disebutkan ayat At-Tin berikutnya:
اِ
لاَّ ا لَّذِ يْنَ ا مَنُوْ ا وَ ءَمِلُو ا ا لصّلِحَتِ فَلَهُمْ ا جْرٌ غَيْرُ
مَمْنُوْ نٍ
Artinya:
“Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; Maka bagi mereka, pahala
yang tiada putus-putusnya” (Q.S. At-Tin: 6)
Kemuliaan
manusia harus dibentuk oleh iman dan amal shaleh. Iman merupakan landasan
spiritual manusia, sedangkan amal shaleh adalah perpaduan antara ilmu
pengetahuan dan teknologi, artinya ilmu yang dapat memberikan manfaat bagi
kehidupan manusia, sehingga manusia berperilaku rasional dan terjaga
spiritualitasnya. Amal shaleh adalah cara kerja yang profesional.
Perlu
diketahui pula bahwa dalam sejarah filsafat, masa etik diisi oleh tiga macam
aliran filsafat, yaitu aliran Epicorus, Stoa, dan Skeptis. Epicorus yang
mendirikan sekolah filosofi kahir di Samos pada tahun 341 SM dan meninggal di
Athena pada tahun 217 SM dalam usia 70 tahun. Menurut pendapat Epicorus, ajaran
etiknya adalah mencari kesenangan, tujuannya memperkuat jiwa untuk menghadapi
semua keadaan.
Yang
kedua adalah aliran Stoa didirikan di Athena oleh Zeno dari Kition (133-266
SM). Ia dilahirkan di Kition pada tahun 340 SM, dan meninggal di Athena pada
tahun 264 SM ia mencapai umur 76 tahun. Ajaran etiknya adalah memberikan
petunjuk tentang sikap sopan santundalam kehidupan. Tujuanya menyempurnakan
moral manusia.
Yang
terakhir adalah aliran Skeptis. Skeptis artinya ragu-ragu terhadap segala
sesuatu merupakan fondasi keyakinan. Sekolah yang dijadikan aliran Skeptis
adalah sekolah aliran Pyrrhon dari Elis. Phyrron sendiri lahir tahun 360 SM dan
meninggal dunia pada tahun 270 SM.
Itulah
beberapa pandangan tentang etika yang nantinya akan dianut oleh para filusuf
dan bisa jadi oleh ilmuan. Lalu, di mana letak atau posisi etika keilmuan dalam
konteks pendidikan Islam? Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, etika
keilmuan yang harus dibangun adalah sebagai berikut:
1. Semua
ilmu bersumber dari Allah SWT. Karena Allah Rabbul-alamin
2. Semua
ilmu wajib digali dan dicari sebanyak mungkin karena Islam mewajibkan mencari
ilmu sejak manusia dari buaian hingga ke liang lahat
3. Setiap
ilmu yang dimiliki sekecil apapun harus diamalkan dalam hidup
4. Setiap
ilmu yang dimiliki harus menjadi cahaya yang menerangi kehidupan dan menolong
orang-orang yang masih bodoh atau awam
5. Setiap
ilmu yang dimiliki harus disebarkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum
6. Setiap
ilmu yang dikembangkan harus mempermudah usaha manusia dalam mempertahankan
kehidupannya dan tidak mendatangkan kemadharatan.[5]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pragmatisme
adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu
ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Kemudian, Paham yang berkaitan
dengan etika keilmuan dapat terlepas dari pandangan positivisme, selain
pragmatisme. Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Menurut
positivisme pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Etika keilmuan yang menganut
positivisme akan mempertegas tentang kebenaran pengetahuan terletak pada
fakta-fakta yang konkret dan indrawi.
Setelah itu, Istilah
Renaissance berasal dari bahasa Prancis yang berarti kebangkitan kembali. Para
sejarawan menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan berbagai periode
kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. Humanisme dan individealisme
merupakan ciri Renaissance yang penting. Pada abad pertengahan, manusia di
anggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran
dari Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia. Etika keilmuan yang dibangun di atas paham humanisme
adalah etika meterialisme karena sesungguhnya manusia adalah materi, yang dalam
paham meterialisme, kehidupan manusia akan berakhir sebagaimana benda lainnya,
hanya keberakhiran materi yang merupakan perubahan yang abadi.
B. Saran
Penulis
harap, pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penulis agar adanya perbaikan dimasa mendatang.
[4] Drs. Hasan
Basri, M.Ag. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Cv Pustaka Setia
[5] Drs.
Hasan Basri, M.Ag. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Cv Pustaka Setia
Comments
Post a Comment