Skip to main content

MAKALAH ETIKA PRAGMATIS DALAM PENDIDIKAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.
Hidup yang baik dan bagaimana hidup dengan baik pastilah telah lama menjadi bahan pemikiran manusia. Hampir tidak mungkinlah manusia tidak menghadapi dua pernyataan fundamental dari hidupnya, yakni “dari mana asalnya” dan “kemana ia harus menuju”. Sejauh pengetahuan kami, soal asal mula tujuan hidup di Indonesia ini juga telah menjadi pokok pembicaraan pada pemikir bangsa. Garis besar pemikira mereka ialah bahwa manusia tidak bisa hidup begitu saja, ia mesti mengerti hakikat hidupnya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Etika Pragmatis Dalam Pendidikan Islam?
2.      Apa yang dimaksud dengan Positivisme Dalam Etika Keilmuan?
3.      Bagaimana Etika Keilmuan Pada Zaman Renaissance dan Humanisme?
C.    Tujuan Penulisan
1.   Mengetahui tentang Etika Pragmatis Dalam Pendidikan Islam
2.   Mengetahui tentang Positivisme Dalam Etika Keilmuan
3.   Mengetahui tentang Etika Keilmuan Pada Zaman Renaissance dan Humanisme

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Etika Pragmatis Dalam Pendidikan Islam
Etika keilmuan diatur menurut nilai-nilai dan etika pramatisme. Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Pragmatisme berpandangan bahwa substansi kebenaran adalah jika agama memberikan kebahagiaan. Pendidika agama Islam adalah bagian dari tugas agama maka mengajarkan pendidikan Agama Islam merupakan kebenaran. Pragmatisme juga menilai manfaat suatu perbuatan dari dampak materil yang ditimbulkannya, misalnya lembaga pendidikan dibangun dengan tujuan memperoleh keuntungan materil dari sumbangan orang tua murid dan dari pemerintah.
Dalam filsafat pendidikan Islam, pragmatisme tentu ada karena tujuan pendidikan Islam adalah membentuk anak didik yang bertaqwa kepada Allah, berkepribadian luhur, berilmu pengetahuan luas, terampil, dan dapat diamalkan dalam kehiduan sehari-hari. Dengan tujuan itulah, pragmatisme menegaskan bahwa pendidikan Islam diberikan kepada anakdidik agar memilki keahlian duniawi dan ukhrawi. Keduanya harus memberikan keuntungan.
Filsuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dhewey. William James lahir di New York Citty pada tahun 1842. Pandangan filsafatnya, diantaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab, pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah karena di dalam praktik, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Nilai konsep atau pertimbangan kita bergantung pada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya bergantung pada keberhasiln perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar apabila bermamfaat bagi pelakunya. Memperkaya hidup dan kemungkinan-kemungkinannya.
Dalam filsafat pendidikan Islam, pragmatisme tentu ada karena tujuan pendidikan Islam adalah membentuk anak didik yang bertakwa kepada Allah, berkepribadian luhur, berilmu pengetahuan yang luas, terampil, dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan tujuan itulah, pragmatisme menegaskan bahwa pendidikan Islam diberikan kepada anak didik agar memiliki keahlian duniawi dan ukhrawi. Keduanya harus membeikan keuntungan.
Tokoh pragmatisme yang kedua adalah John Dewey. Sebagai pengikut filsafat pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis.
Menurutnya, tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berfikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena itu, berpikir tidak lain dari alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya memengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenernya adalah metode induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengetahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.
Apabila filsafat pendidikan Islam berkiblat pada pandangan pragmatisme John Dewey, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah segala sesuatu yang sifatnya nyata, bukan hal yan diluar jangkauan pancaindra. Sebagaimana pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Fakultas Tarbiyah, tujuannya harus nyata, yaitu melahirkan sarjana pendidik yang mampu menerapkan ilmu pendidikan agama Islam dalam dunia pendidikan. Adapun aspek di luar tujuan yang real dapat dikembangkan secara individual, misalnya pendidik yang berbudi luhur. Tujuan ini untuk semua manusia, bukan hanya untuk pendidik, tetapi bagi pendidik sangat diperlukan sikap dan mental yang berbudi luhur.
Etika keilmuan berkaitan dengan kode etik bagi para pendidik. Akan tetapi, dalam perspektif filsafat, pendidikan etika pendidikan itu membahas pula masalah yang berkaitan dengan substansi etika yang dimiliki oleh dunia pendidikan Islam, terutama berkaitan dengan hal-hal dibawah ini:
1.    Keilmuan yang bersumber kepada wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah
2.    Keilmuan yang berbasis kepada pola pendidikan tradisional Islam, seperti Pondok Pesantren Salafiyah
3.    Keilmuan sebagai alat yang merumuskan prinsip-prinsip pendidikan dengan mempertimbangkan istilah-istilah terminologi dalam Islam
4.    Keilmuan yang mengarahkan pendidikan kepada tujuan umum dalam beragama Islam, yaitu tujuan utama pendidikan, yaitu tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk anak didik yang beriman dan bertakwa. Tujuan ini merupakan tujuan umum dalam Islam
5.    Keilmuan yang mengacu kepada doktrin agama Islam dan kebergantungan kepada tokoh agama, kebesaran seorang pengasuh pondok pesantren dan khariismatik kyai.
Etika keilmuan dalam pendidikan Islam di atas jumlahnya masih banyak karena etika yang dipertahankan tidak akan mudah runtuh, apalagi pendidikan yang demikian sebagai salah satu karakteristik mutlak dalam pendidikan Islam.[1]
B.     Positivisme Dalam Etika Keilmuan
Paham yang berkaitan dengan etika keilmuan dapat terlepas dari pandangan positivisme, selain pragmatisme di atas. Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Comte menguraikan secara singkat pendapat-pendapat positivis hukum tiga stadia, klasifikasi ilmu-ilmu pengetahuan, dan bagan mengenai tatanan dan kemajuan.[2]
Positivisme berasal dari kata “positif:. Kata positif di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta.
Etika keilmuan yang menganut positivisme akan mempertegas tentang kebenaran pengetahuan terletak pada fakta-fakta yang konkret dan indrawi. Dengan demikian, apabila pendidikan Islam menganut paham ini, tidak akan dibahas segala hal yang berhubungan dengan kebenaran metafisikal, apalagi yang supranatural. Aka tetapi, etika keilmuan yang dibangun oleh filsafat pendidikan Islam tidak menganut paham positivisme, meskipun menerima kebenaran yang menggunakan paham tersebut. Dalam Islam, kebenaran yang hakiki hanya kebenaran Tuhan, selain kebenaran Tuhan, hanyalah kebenaran yang nisbi. Akan tetapi, setiap kebenaran nisbi diyakini oleh umat Islam sebagai cara menuju kebenaran hakiki.
Meskipun menurut Comte yang memberikan istilah “positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan verasal dari dia, menurut kaum positivis, pandangan bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya, sudah tersebar luas di lingkungan intelektual pada masa Comte. Akan tetapi, kebanyakan kelompok positivis berasal dari kalangan orang-orang progresif, yang bertekad mencampakkan tradisi irasional dan memperbarui masyarakat menurut hukum alam sehingga menjadi lebih rasional, Comte percaya bahwa penemuan hukum-hukum alam itu akan membukakan batas-batas pasti yang (inherent) dalam kenyataan sosial, dan melampaui batas-batas itu dengan usaha pembaruan akan merusakkan dan menghasilkan yang sebaliknya. Skeptisisme Comte yang berhubungan dengan usaha-usaha pembaruan besar-besaran serta penghargaan terhadap tonggak-tonggak keteraturan sosial tradisional menyebabkan dia dimasukkan dalam kategori orang konservatif.
Etika keilmuan yang dibangun oleh Comte dengan positivisme memberikan pemahaman bahwa puncak kebenaran dari pengetahuan adalah segala sesuatu yang empirik, dan setiap dinamika dari kebenaran empirik itu bersifat progresif. Oleh karena itu, substansi dari etika keilmuan sepantasnya menuju ke arah yang terus lebih baik dan memiliki masa depan yang cerah.
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dari masa primitif sampai peradaban Perancis abad kesembilan belas yang sangat maju. Hukum ini, yang mungkin paling terkenal dalam gagasan-gagasan teoretis pokok Comte, tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalu luas dan umum sehingga tidak dapat benar-benar tunduk pada pengujian empiris secara teliti, yang menurut Comte harus ada untuk membentuk hukum-hukum sosiologi.
Hukum itu menyatakan bahwa umat manusi berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berfikir yang dominan teologis, metafisik, dan positif. Lebih lagi, pengaruh cara berfikir yang berbeda-beda ini meluas ke pola-pola kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat. Jadi, watak struktur sosial masyarakat bergantung pada gaya epistimologisnya atau pandangan dunia, atau cara mengenal dan menjelaskan gejala yang dominan.
Dalam fase teologis, akal budi manusia, yang mencari kodrat sadar manusia, yakni sebab pertama dan sebab akhir (asal dan tujuan) dari segala akibat singkatnya, pengetahuan absolut mengendalikan bahwa semua gejala dihasilkan oleh tindakan langsung dari hal-hal supernatural.
Dalam fase metafisik, yang hanya merupakan suatu bentuk lain dari yang pertama, akal budi mengandaikan bukan hal supernatural, melainkan kekuatan-kekuatan abstrak, hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda (abstraksi-abstraksi yang dipersonifikasikan), dan yang mampu menghasilkan semua gejala.
Dalam fase terakhir, yakni fase positif, akal budi sudah meninggalkan pencarian yang sia-sia terhadap pengertian-pengertian yang absolut, asal dan tujuan alam semesta, serta sebab-sebab gejala, dan memusatkan perhatiannya pada studi hukum-hukumnya yakni hubungan-hubungan urutan dan persamaannya yang tidak berubah. Penalaran dan pengamatan, digabungkan secara tepat, merupakan sarana-sarana pengetahuan ini”.[3]
Dari pandangan Comte tentang tiga tahapan pemikiran manusia, dapat diambil pemahaman bahwa etika keilmuan yang terus berkembang tidak selamnya hierarkis sistematis sebagaimana yang dikemukakan oleh Comte sebab dalam ajaran Islam tidak dikenal tahapan demikian. Pandangan manusia seharusnya didasarkan pada dua etika yang paling mendasar, yaitu:
1.    Pandangan bahwa semua makhluk Allah hanya tunduk mutlak kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, semua usaha manusia merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah
2.    Semua pengabdian manusia sepenuhnya harus didukung oleh rencana-rencana Allah yang tertuang dalam wahyu-Nya, yang berupa wahyu tertulis (Al-Quran dan As-Sunnah) dan wahyu yang tidak tertulis. Kedua wahyu tersebut memerlukan pemikiran mendalam, rasional, dan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan manusia dan di hadapan Allah.
Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala tersebut. Kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk-makhluk insani biasa zaman teologis ini dibagi lagi menjadi tiga periode, yaitu:
1.    Animisme. Tahap ini merupakan tahapan paling primitif karena benda-benda dianggap mempunyai jiwa
2.    Politisme. Tahap ini merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini, manusia percaya pada dewa yang menguasai suatu lapangan tertentu misalnya dewa lat, dewa gunung, dewa halilintar, dan sebagainya.
3.    Monoteisme. Tahap ini lebih tinggi daripada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap ini, manusia hanya memandang satu Tuhan sebagai penguasa.
Pada metafisis, kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip yang abstrak, seperti “kodrat” dan “penyebab”. Metafisika pada zaman ini dijunjung tinggi.
Adapun zaman positivis adalah zaman yang dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasannya ialah pada zaman ini tidak lagi ada usaha manusia untuk mencari penyebab yang terdapat di belakang fakta-fakta.
Pada zaman terakhir inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya. Ilmu pengetahuan tidak semuanya mencapai kematangan yang sama pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu, perkembangan ilmu penetahuan dapat dilukiskan berdasarkan rumitnya bahan yang dipelajari di dalamnya. Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sedangkan sesuatu yang di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.[4]
C.    Etika Keilmuan Pada Zaman Renaissance Dan Humanisme
Istilah Renaissance berasal dari bahasa Prancis yang berarti kebangkitan kembali. Para sejarawan menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. Orang yang pertama menggunakan istilah tersebut adalah Jules Michelet, seorang sejarawan Perancis yang terkenal. Menurutnya, Renaissance ialah period penemuan manusia dan dunia, bukan sekedar kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern.
Awal mula suatu masa baru ditandai oleh suatu usaha besar dari Descartes (1596-1650 M) untuk memberikan suatu bangunan yang baru kepada filsafat. Dalam bidang filsafat, zaman Renissaince kurang menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang sains.
Sejak saat itu, dan telah dimulai sebelumnya, yaitu sejak permulaan Renaissance, individualisme dan humanisme telah dicanangkan. Descartes memperkuat idea-idea ini. Humanisme dan individealisme merupakan ciri Renaissance yang penting. Pada abad pertengahan, manusia di anggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran dari Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia.
Humanisme sesungguhnya telah mengambil moral kemanusiaan seluruhnya dari agama. Humanisme menyatakan bahwa pendidikan spiritual dan menepati janji, dalam nisbatnya dengan keutamaan-keutamaan moral, dapat dicapai tanpa keyakinan terhadap Tuhan.
Manusia adaah makhluk yang memiliki nilai-nilai asli (bawaan) dalam alam fisik. Ia memiliki esensi yang khas, yang merupakan makhluk atau fenomena kekecualian dan mulia. Sebab, dia mempunyai kehendak, dan berada dalam alam sebagai “penyebab yang mandiri”. Manusia mempunyai kemampuan menentukan pilihan dan menciptakan masa depannya sebagai usaha menentang nasib yang ditentukan oleh alam.
Dengan sosok seperti ini, manusia adalah makhluk yang selalu mengejar cita-cita dan berusaha mengubah “apa yang ada” menjadi “apa yang semestinya”, atau “apa yang kini ada” menjadi “apa yang seharusnya ada”, di dalam alam, masyarakat, dan dirinya sendiri pula. Perubahan-perubahan tersebut memberinya keyakinan tentang adanya perubahan menuju kesempurnaan.
Dengan pandangan di atas, etika keilmuan yang dibangun di atas paham humanisme adalah etika meterialisme karena sesungguhnya manusia adalah materi, yang dalam paham meterialisme, kehidupan manusia akan berakhir sebagaimana benda lainnya, hanya keberakhiran materi yang merupakan perubahan yang abadi. Oleh sebab itu, tidak ada kehancuran, yang ada hanyalah perubahan.
Dalam pendidikan Islam dikenal etika keilmuan dengan paham humanisme, tetapi dalam pandangan Islam humanisme yang dimaksudkan adalah tentang kemuliaan manusia karena Allah memuliakannya, sebagaimana Allah berfirman dalam surat At-Tin ayat 4-5:

                                    لَقَدْ خَلَقْنَا ا لاِ نْسنَ فِيْ اَ حْسَنِ تَقْوِ يم. ثُمَّ رَ دَ دْ نهُ اَ سْفَلَ سَا فِلِيْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudan, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”  (Q.S. At-Tin: 4-5)
Ayat tersebut menyatakan bahwa secara genetis manusia diciptakan dengan kreativitas Tuhan yang terbaik, tetapi sebaik apapun fisik manusia, ia akan mengalami kerusakan, bahkan derajatnya yang tinggi pun akan menjadi sangat rendah.
Yang menyebabkan kemuliaan manusia terjaga dan harkat martabatnya tetap tinggi adalah keilmuannya yang dapat membangun keimanan dan ketakwaan, sebagaimana disebutkan ayat At-Tin berikutnya:
            اِ لاَّ ا لَّذِ يْنَ ا مَنُوْ ا وَ ءَمِلُو ا ا لصّلِحَتِ فَلَهُمْ ا جْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْ نٍ
Artinya:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh; Maka bagi mereka, pahala yang tiada putus-putusnya” (Q.S. At-Tin: 6)
Kemuliaan manusia harus dibentuk oleh iman dan amal shaleh. Iman merupakan landasan spiritual manusia, sedangkan amal shaleh adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan dan teknologi, artinya ilmu yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, sehingga manusia berperilaku rasional dan terjaga spiritualitasnya. Amal shaleh adalah cara kerja yang profesional.
Perlu diketahui pula bahwa dalam sejarah filsafat, masa etik diisi oleh tiga macam aliran filsafat, yaitu aliran Epicorus, Stoa, dan Skeptis. Epicorus yang mendirikan sekolah filosofi kahir di Samos pada tahun 341 SM dan meninggal di Athena pada tahun 217 SM dalam usia 70 tahun. Menurut pendapat Epicorus, ajaran etiknya adalah mencari kesenangan, tujuannya memperkuat jiwa untuk menghadapi semua keadaan.
Yang kedua adalah aliran Stoa didirikan di Athena oleh Zeno dari Kition (133-266 SM). Ia dilahirkan di Kition pada tahun 340 SM, dan meninggal di Athena pada tahun 264 SM ia mencapai umur 76 tahun. Ajaran etiknya adalah memberikan petunjuk tentang sikap sopan santundalam kehidupan. Tujuanya menyempurnakan moral manusia.
Yang terakhir adalah aliran Skeptis. Skeptis artinya ragu-ragu terhadap segala sesuatu merupakan fondasi keyakinan. Sekolah yang dijadikan aliran Skeptis adalah sekolah aliran Pyrrhon dari Elis. Phyrron sendiri lahir tahun 360 SM dan meninggal dunia pada tahun 270 SM.
Itulah beberapa pandangan tentang etika yang nantinya akan dianut oleh para filusuf dan bisa jadi oleh ilmuan. Lalu, di mana letak atau posisi etika keilmuan dalam konteks pendidikan Islam? Dalam perspektif filsafat pendidikan Islam, etika keilmuan yang harus dibangun adalah sebagai berikut:
1.    Semua ilmu bersumber dari Allah SWT. Karena Allah Rabbul-alamin
2.    Semua ilmu wajib digali dan dicari sebanyak mungkin karena Islam mewajibkan mencari ilmu sejak manusia dari buaian hingga ke liang lahat
3.    Setiap ilmu yang dimiliki sekecil apapun harus diamalkan dalam hidup
4.    Setiap ilmu yang dimiliki harus menjadi cahaya yang menerangi kehidupan dan menolong orang-orang yang masih bodoh atau awam
5.    Setiap ilmu yang dimiliki harus disebarkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum
6.    Setiap ilmu yang dikembangkan harus mempermudah usaha manusia dalam mempertahankan kehidupannya dan tidak mendatangkan kemadharatan.[5]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Kemudian, Paham yang berkaitan dengan etika keilmuan dapat terlepas dari pandangan positivisme, selain pragmatisme. Positivisme diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Menurut positivisme pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Etika keilmuan yang menganut positivisme akan mempertegas tentang kebenaran pengetahuan terletak pada fakta-fakta yang konkret dan indrawi.
Setelah itu, Istilah Renaissance berasal dari bahasa Prancis yang berarti kebangkitan kembali. Para sejarawan menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. Humanisme dan individealisme merupakan ciri Renaissance yang penting. Pada abad pertengahan, manusia di anggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran dari Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia. Etika keilmuan yang dibangun di atas paham humanisme adalah etika meterialisme karena sesungguhnya manusia adalah materi, yang dalam paham meterialisme, kehidupan manusia akan berakhir sebagaimana benda lainnya, hanya keberakhiran materi yang merupakan perubahan yang abadi.

B.     Saran
Penulis harap, pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis agar adanya perbaikan dimasa mendatang.


[1] Drs. Hasan Basri, M.Ag. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Cv Pustaka Setia. 2009.
[2] Juhaya S.Pradja,2000:89
[3] Doyle Paul Jhonson, 1987:85
[4] Drs. Hasan Basri, M.Ag. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Cv Pustaka Setia
[5] Drs. Hasan Basri, M.Ag. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Cv Pustaka Setia

Comments

Popular posts from this blog

Tugas UAS Pengembangan Silabus PAI

PERMENDIKBUD NO 54, 65, 66, 67 TAHUN 2013 TENTANG KURIKULUM 13 A.     PERMENDKKBUD NO 54 TAHUN 2013 T ENTANG STANDAR KOPETENSI KELULUSAN Berkaitan dengan rencana pemberlakuan Kurikulum 2013,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menerbitkan peraturan baru yang  mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk setiap jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan.  Dalam peraturan tersebut antara lain dikemukakan bahwa: Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Sta...

MAKALAH INPUT, PROSES, OUTPUT DAN OUTCOME PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN A.   Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang untuk memdewasakan manusia atau meningkatkan potensi dan kecerdasan manusia baik untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam pendidikan ada yang dinamakan input, proses, output dan outcome. Keempat aspek tersebut sangat penting dan saling berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga keempat aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Mengingat pentingnya pendidikan, banyak pendidik ataupun peserta didik yang tidak memperhatikan dan memahami input, proses, output dan outcome sehingga pendidik tidak mampu membuat peserta didiknya move on menuju arah lebih baik lagi. Dengan alasan ini, dirasa perlu untuk membahas tentang input, proses, output dan outcome untuk lebih memaknai hakikat belajar.         B. ...

MAKALAH ETIKA TEMAN SEJAWAT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahawa “Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.” Ini berarti bahwa: (1) Guru hendaknya menciptakan dan memlihara hubngan sesama guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya. Dalam hal ini Kode Etik Guru Indonesia menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perilaku diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota profesi. Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan formal dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal ialah hubungan yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menun...