BAB I
1.1 Latar Belakang Masalah
Psikologi merupakan ilmu yang mulai berkembang sejak dahulu, yakni sekitar abad 17 dan 18. Pada mulanya ilmu ini merupakan bagian daripada filsafat sebagaimana pula ilmu-ilmu yang lain seperti misalnya ilmu hukum tatanegara maupun ilmu ekonomi, namun kemudian memisahkan diri da n berdiri sebagai ilmu tersendiri.
Semuanya itu bersumber dari tuhan yang maha esa sebagai pencipta segala sesuatu,dan hasil ciptaan itulah yang menjadi obyek atau sasaran dari berbagai cabang ilmu pengetahuan.karenanya sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah tuhan yang naha esa.yang lahir pertama kali adalah filsafat,yang membahas hakekat segala sesuatu.dari padanya lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan,oleh karna itu dalam semua ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itu akan dijumpai tokoh-tokoh filsafat kuno seperti:socrates,plato dan aristoteles yang ikut mengembangkan fikiran dan penemuannya dalam ilmu-ilmu tersebut sehinga tokoh-tokoh nanti akan dijumpai juga dalam mempelajari psikologi serta cabang-cabang psikologi.
Semuanya itu bersumber dari tuhan yang maha esa sebagai pencipta segala sesuatu,dan hasil ciptaan itulah yang menjadi obyek atau sasaran dari berbagai cabang ilmu pengetahuan.karenanya sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah tuhan yang naha esa.yang lahir pertama kali adalah filsafat,yang membahas hakekat segala sesuatu.dari padanya lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan,oleh karna itu dalam semua ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itu akan dijumpai tokoh-tokoh filsafat kuno seperti:socrates,plato dan aristoteles yang ikut mengembangkan fikiran dan penemuannya dalam ilmu-ilmu tersebut sehinga tokoh-tokoh nanti akan dijumpai juga dalam mempelajari psikologi serta cabang-cabang psikologi.
Sesungguhnya tiap-tiap orang perlu sekali mengetahui dasar Ilmu jiwa umum,
dalam pergaulan hidup sehari-hari, Ilmu jiwa perlu sebagai dasar pengetahuan
untuk dapat memahami jiwa orag lain.
Kita dapat mengingat kembali sesuatu yang pernah kita amati. Gambaran
ingatan dari sesuatu pengamatan disebut tanggapan, disini pemakalah akan
mengupas tentang masalah tanggapan dan hal-hal yang ada disekitarnya.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian tanggapan?
b. Bagaimana perbedaan dan persamaan tanggapan dengan pengamatan?
c. Apa yang dimaksud dengan bayangan pengiring dan eiditis?
d. Apa saja jenis dan tipe-tipe tanggapan?
e. Bagaimana perkembangan tanggapan?
f. Apa sajakah catatan praktis mengenai tanggapan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tanggapan
Tanggapan merupakan gambaran mengingat kembali sesuatu yang pernah kita
amati, di mana objek yang telah kita amati tidak lagi berada dalam ruang dan
waktu pengamatan. Tanggapan juga merupakan sebagian salah satu fungsi dari jiwa
yang pokok. Sehinhgga tanggapan dapat diartikan bekas atau gambaran dari
sesuatu pengamatan, yang tinggal dalam lubuk jiwa kita sehingga disebut
gambaran ingatan. Gambaran pengindraan yang sebenarnya tentu lebih sempurna,
lebih jelas dari gambaran ingatan. Misalnya kesan pemandangan alam yang baru
kita lihat, musik yang merdu dan lain sebagainya. Gambaran itu ada yang jelas
dan tidak tergantung pada peroses pengamatan, ada beberapa paktor yang dapat
memengaruhi jelas atau tidaknya gambaran itu,
a. Kuat tidaknya kesan yang diterima, dan
gambaran yang terjadi waktu pengamatan yang sebenarnya.
b. Jelas tidaknya, sempurna tidaknya pengamatan
yang berlangsung dahulu itu.
c. Keadaan jiwa dan atau keadaan tubuh waktu
menerima kesan itu dan sekarang waktu menggambarkannya kembali.
Di antara pengamatan
dan gambaran tanggapan ada gambar pengiring dan ganbar eiditis. Gambar
pengiring berlangsung singkat, yaitu sesaat sesudah perangsangan berlalu.
Sedangkan pada gambar tangapan perangsangnya sudah tidak ada lagi. Sedangkan
gambar eiditis banyak terjadi pada anak kecil dan anak muda, jrang sekali
terjadi pada orang dewasa. Gambar eiditis itu sangat jelas hidup dalam ingatan,
bahkan bentuk, warna dan yang lainya sangat jelas dalam ingatan.
Tanggapan
dibedakan menjadi 3, yaitu:
1. Tanggapan masa lampau atau
tanggapan ingatan.
Biasanya bersangkutan
dengan pengalaman yang telah di alami dimasa lampau yang masih terniang, kuat
dalam ingatan bahkan masih bisa terlihat dalam ingatan.
2. Tanggapan masa datang atau tanggapan mengantisipasikan.
Biasanya tanggapan ini
untuk mengantisipasi jika nanti terjadi seperti itu apa yang harus kita
lakukan, atau sama juga dengan merencanakan sesuatu.
3. Tanggapan masa kini
atau tanggapan representative (tanggapan mengimajinasikan)
Tanggapan memiliki dua fungsi yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder.
Fungsi primer apabila tanggapan-tanggapan yang di sadari langsung berpengaruh
pada kehidupan kejiwaan, misalnya dalam pola berpikir, perasaan dan pengalaman.
Sedangkan fungsi yang ke dua adalah fungsi sekunder yaitu apabila tanggapan
yang sudah tidak disadari dan ada dalam bawah sadar masih berpengaruh dalam
kehidupan kejiwaan. Kedua fungsi tersebut menyangkut dalam
pengalaman-pengalaman masa lampau, sedikit atau banyak pengalaman tersebut
pasti akan memberikan pengaruh kepada kepribadian seseorang.
Dari fungsi kedua di atas akanmembentuk sifat ataukarakter bagi seseorang,
apabila seseorang memiliki fungsi primer yang dominan, maka seseorang cenderung
akan memiliki salah satunya, lincah, menarik, manis hati, mudah, mengerti,
namun dangkal pengetahuanya, selain itu memiliki kebaranian, humoris,
berlebih-lebihan, mulut besar, gembira akan tetapi juga akan mudah berkecil
hati, suasana hatinya tiak tetap dan mudah berganti-ganti. Sedangkan apabila
seseorang memiliki fungsi sekunder yang dominan orang tersebut cenderung akan
memiliki sifat suasana hatinya tenang, tekun, hemat, rajin, teliti, waktunya
tertutup, berbicara dan tertawanya sedikit, sering terlihat kaku, tidak menarik
dan membosankan.
B. Pembedaan dan Persamaan Tanggapan dengan Pengamatan
Ada bebepa perbedaan
antara tanggapan dan pengamatan yaitu,
1. Pengamatan terikat pada tempat
dan waktu, sedang pada tanggapan tidak terikat pada waktu dan tempat.
2. Objek
pengamatan sempurna dan mendetail, sedangkan objek tanggapan tidak mendetail
dan kabur.
3. Pengamatan
memerlukan perangsang, sedangkan pada tanggapan tidak perlu ada perangsang.
4. Pengamatan
bersifat sensoris, sedangkan pada tanggapan bersifat imaginer
(bayang-bayang). Sifatnya
tidak terlalu hidup dibandingkan dengan pengamatan, maksudnya satu gambar
pengiring atau gambar pengikut.
Adapun
persamaan dari tanggapan dan pengamatan berlangsung selama masih ada perhatian
dan bersifat perseorangan.
C. Bayangan Pengiring dan Bayangan Eiditis
Bayangan pengiring
dan bayangan eiditis merupakan gejala yang teletak di antara pengamatan dan
tanggapan, kedua bayangan tersebut dapat diamati oleh yang bersangkutan. Jika diurutkan
gejala-gejala berikut akan sebagai berikut, mengamat – bayangan pengiring –
bayangan eidit – tanggapan – pengertian, masing-masing gejala tersebut
mempunyai perbedaan kuantitatif atau jumlah.
1)
Bayangan pengiring
Bayangan
pengiring optis tidak mempunyai tempat yang pasti dalam medan penglihatan, sebab
bayangan ini berpindah-pindah sesuai dengan gerakan mata.
Misalnya: apakah kita berdiri di halaman pada waktu sinar matahari
menyorot diri kita, dan dalam waktu sejenak kita pandang bayangan kita sendiri
dengan tidak memejamkan mata, maka apabila kita sekarang melihat ke langit,
maka di sana akan ada bayangan serupa yang kita pandang itu.
Suara
kadang-kadang punya bayangan pengiring. Misalnya:kalau kalau
kita semalam suntuk baru saja menyaksikan pertunjukan wayang kulit, maka
paginya sering-sering suara gemelan itu masih terdengar, meskipun kita sudah
berada jauh dari tempat pertunjukan wayang tersebut.
2)
Bayangan Eiditis
Bayangan eiditis (eidos : arca,
golek) yaitu suatu gambaran yang jelas yang didapat setelah adanya pengawas.
Gambar ini bersifat lebih tahan lama, lebih jelas daripada bayangan pengiring yang
bersangkutan dalam mengamatinya seolah-olah bendanya ada di hadapannya, dan
kadang-kadang ia menggerak-gerakkan kepala dan membuat sikap sedemikian rupa
supaya benda yang diamati kelihatan jelas.
Dalam bayangan yang dikemukakan oleh Urban-Schnitsch, dan diselidiki secara
mendalam oleh Erich dan Walter Jaensch. Menurut Jaensch dibedakan sebagai
berikut :
·
Ada orang yang
mempunyai bayangan eiditis bertitpe Tetanoid (type T), bayangan ini lebih
menyerupai bayangan pengiring, gambaranya kaku dan tidak dapat dipengaruhi oleh
kehendak.
·
Ada orang yang
mempunyai bayangan eiditis bertype Basedoid (type B), bayangan ini mempunya
banyak persamaan dengan tanggapan, dapat dihidupkan dan dapat pula dimatikan.
3) Jenis dan Tipe – Tipe Tanggapan
a. Jenis Tanggapan
Tanggapan erat
hubungannya dengan berfungsinya ingatan, ketetapan dan kejelasan. Tanggapan
tergantung pada derajat kompleksitas situmulus yang asli dan pada ketelitian pengamatan
indra, serta pada faktor ingatan.
1)
Tanggapan Reproduksi
Suatu tanggapan dianggap sebagai reproduktif, bila tanggapan itu
menunjukkan pengingatan kembali suatu benda, kejadian, atau situasi, yang
memberikan suatu pengalaman sensoris atau pengamatan masa lalu. Setiap hal dari
pengindraan dapat terlibat, suatu tanggapan ingatan mungkin berupa pendengaran,
penglihatan, suhu. Rasa sakit, penciuman, atau kinestesis. Suatu tanggapan yang
diiangat tentang pngalaman-pengalaman lalu cenderung berbeda-beda dalam
kejelasannya sesuai dengan kesederhanaa nya atau kekompleksannya, dan juga
sesuai dengan jumlah pengalaman mengenai situasi pengindraan yang asli.
Misalnya, tanggapan uang logam lima sen akan jauh lebih jelas untuk sebagian
besar orang-orang dari pada ruang tamu seorang teman.
2)
Tanggapan Imaginer
Tanggapan bukanlah
selalu hanya reproduksi pengalaman-pengalaman lalu. Banyak gambaran-gambaran
mental (Tanggapan) adalah hasil dari suatu syntese pengalaman-penglaman masa
lalu, hal ini disebut tanggapan imaginer yang berdasar kepada
penglaman-penglaman lalu, tetapi yang mengambil suatu bentuk baru dan dapat
dianggap sebagai “tanggapan produktif dan kreatif. Penemuan, pembacaan
hasil-hasil fiktif (khayalan dan arsitik) adalah contoh-contoh dari jenis tanggapan
ini. Mimpi malam dan siang hari meliputi tanggapan reprodukti dan sintetis.
3)
Tanggapan Halusinasi
Unsur-unsur emosi mimpi menjadi faktor-faktor yang kuat dalam perkembangan
halusinasi. Tanggapan halusinasi meliputi pembentukan gambaran-gambaran yang
tak berhubungan dengan kenyataan tetapi yang di proyeksi kepada dunia yang
nyata. Dalam bentuk-bentuk tartuntu gangguan emisional yang keras, misalnya,
pasien dapat melapurkan melihat malaikat atau mendengar suara-suaranya.
4)
Tanggapan Editis
Ada sementara orang yang sudah mengamati sesuatu mendapatkan tanggapan yang
sangat jelas dan ingat betul sampai mendetail. Tanggapannya sangat terang
seterang pengamatan. Tanggapan semacam ini disebut Tanggapan Editis.
b. Tipe – Tipe Tanggapan
Tiap - tiap orang mempunyai tipe tanggapan yang berbeda, yang biasanya
dapat di golongkan menjadi beberapa tipe, yaitu:
1. Type Visual yaitu orang itu memiliki ingatan yang baik sekali tentang
apa-apa yang dilihatnya.
2. Type Auditif artinya orang itu dapat mengingat dengan baik sekali bagi apa
yang telah didengarnya.
3. Type Motorik artinya orang itu dapat melihat dengan baik sekali bagi apa
yang telah dirasakan gerakanya.
4. Type Taktil artinya orang itu mempunyai ingatan bagi apa yang telah
dirasakanya.
5. Type Campuran artinya kekuatan tiap indra sama saja dan mempunyai ingatan
yang sama kuatnya bagi segala apa yang telah diindranya.
Di dalam mentipe ini bukan berarti indra yang lain tidak bekerja, hanya
indra-indra itu tidak menunjukan kekuatan yang istimewa, karena kekuatan yang istimewa
itulah yang dijadikan dasar untuk mentipe seseorang.
4) Perkenbangan Tanggapan
1. Oswald Kroh
Perkrmbangan tanggapan yang lebih tertuju perkenbangan anak. Mempelajari
perkembangan anak, tidak terlepas mempelajari teori-teori perkembangan anak.
Dalam polanya kedua aspek tersebut
memang berbeda tetapiantara keduanya saling berkaitan dan ada kesamaan yang
mendasar yaitu ada proses belajar mengenal atau menguasai objek atas stimulus
yang datang kepadanya, dengan menggunakan potensi yang dimilikinya. Dikatakan
tanggapan itu berkaiatan dengan pengamatan sebab tanggapan sendiri merupakan
hasil, kenangan dari adanya proses pengamatan. Beberapa teori tentang tanggapan
dan pengamatan dikemukakan oleh:
a. Periode sintetis paniastis (0-8 tahun)
Tanggapan anak masih
merupakan totalitas atau global dan sifatnya masih samar-samar, dan kegiatan
ini masih dipengaruhi oleh fantasi anak, sebab saat itu sedang suka pada
dongeng, cerita hayal dan lain – lain.
b. Periode relisme naif (8-10 tahun)
Pada periode ini anak
sedah mulai dapat membedakan bagian-bagian, akan tetapi anak belum mampu
mengembangkan antara satu dengan lainya dalam situasi totalitas atau
keseluruhan. Unsur fantasi yang asalnya ikut berpengaruh sudah diganti dengan
pengalaman konkret.
c. Periode realisme kritis (10-12 tahun)
Padaperiode ini
pengamatan tanggapan anak bersifat realistis dan kritis. Ia sudah dapat mengadakan
sistesis logis dan ia pun mampu menghubungkan bagian-bagian menjadi satu
totalitas, hal tersebut dikarenakan wawasan dan intelektual anak sudah mencapai
taraf kematangan.
d. Fase subyektif (12-14 tahun)
Pada fase ini tanggapan
serta pengamatan anak masih dipengaruhi oleh emosi yang mendomnasi, sehingga
tanggapan anak cenderung bersifat emosional. Hal ini dapat terjadi karena pada masa
ini muncul gejala trotzalter II.
2. William Stren dan Clarn Stren
a. StadiuM – keadaan (0-8 tahun)
Tanggapan anak masih
dalam gambaran totalitas yang samar-samar, sertaanak sudah dapat dengan teliti
dengan objek tanggapan.
b. Stadium – perubahan (8-9 tahun)
Anak mengamati dan
menaruh minat terhadap pekerjaan dan perbuatan orang dewasa dan juga tingkah
laku hewan.
c. Stadium – hubungan (9-10 tahun)
Anak mengamati relasi
atau hubungan causal dari benda-benda dan peristiwa.
d. Stadium – sifat (10 tahun ke atas)
Anak mulai menganalisis
hasil pengamatan atau tanggapan dengan mengambil kesimpulan dari ciri-ciri dan
sifat-sifat benda sebagai objek pengamatanya.
3. Meumann
a. Fase sintesis (0-8; 0 tahun)
Semua tanggapan anak
memberikan kesan total. Dilengkapi tanggapan tersebut dengan fantsinya.
b. Fase analisis (8-12 tahun)
Anak mulai mengamati
ciri dan sifat dari bermacam-macam benda. Bagian-bagian benda mulai
diperhatikan tetapi belum mampu mengkaitkan dalam kerangka keseluruhan
(totalitas, fantasi sudah kurang berganti dengan pikiranya).
c. Fase sintesis logis (12 tahun ke atas)
Anak sudah dapat
mengamati benda-benda dan peristiwa, dengan wawasan akal budinya (dari
insight-nya). Bagian-bagian mulai dikaitkanya dengan suatu totalitas.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa fase-fase
perkembangan tanggapan dan pengamatan anak sebagai berikut:
a. Global yaitu pengamatan dari tanggapan global atau totalitas.
b. Terurai yaitu anak mulai dapat mengamati bagian-bagian, perhatianya lebih
terurai pada bagian-bagian objek.
c. Sinthesa atau asimilasi yaitu anak sudah dapat membuat sistesis atau
mengasimilasi antara objek total dan bagian-bagianya, demikian pula dengan
kausalnya. Sehingga anak pun dapat menghayati akan perbedaan atau kesamaan,
ciri dan sifat dari bermacam-macam benda.
5) Catatan Praktis Sehubungan dengan Tanggapan
1. Setiap orang mempunyai tipe tanggapan sendiri-sendiri, maka di dalam
mengajar seorang guru hendaknya mengemukakan alat peraga sehingga semua indra
inak dapat bekerja.
2. Seorang guru hendaknya memberi pembendaharaan tanggapan yang besar artinya
memberi tanggapan sebanyak-banyaknya, karena seorang anak akan mengingat
betul-betul apa yang dilihatnya.
3. Sebuah pengajaran yang dilakukan seorang guru hendaknya dihubungkan dari
apa-apa yang diketahui anak, sehingga anak akan mudah mencerna pelajaran.
BAB III
KESIMPULAN
Dari hasil makalah kami tentang tanggapan, kami dapat menyimpulkan bahwa
tanggapan merupakan gambaran mengingat kembali sesuatu yang pernah kita amati,
di mana objek yang telah kita amati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu
pengamatan. Tanggapan erat hubungannya dengan berfungsinya ingatan, ketetapan
dan kejelasan. Diantara pengamatan dan tanggapan terdapat gambar pengiring dan
gambar eiditis. Gambar pengiring berlangsung singkat, yaitu sesaat sesudah
perangsangan berlalu sedangkan gambar eiditis itu sangat jelas hidup dalam
ingatan, bahkan bentuk, warna dan yang lainya sangat jelas dalam ingatan.
DAFTAR PUSTAKA
Nurjanah. 2013. Psikologi Umum. IAID Ciamis Jawa Barat
Patty MA, Prof. F, dkk. 1982. Pengantar
Psikologi Umum.Surabaya : Usaha Nasional.
http://lailatur-rahmah.blogspot.com/.../psikologi-pendidikan-tanggapan.html
http://pba2011.blogspot.com
Comments
Post a Comment