BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kemajuan teknologi informasi
banyak membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan dewasa ini.
Khususnya teknologi komputer dan internet, baik dalam hal perangkat keras
maupun perangkat lunak, memberikan banyak tawaran dan pilihan bagi dunia pendidikan
untuk menunjang proses pembelajaran. Keunggulan yang ditawarkan bukan saja
terletak pada faktor kecepatan untuk mendapatkan informasi namun juga fasilitas
multi media yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual dan interaktif.
Sejalan dengan perkembangan teknologi internet, banyak kegiatan pembelajaran
yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi ini. Dengan adanya perkembangan dalam bidang
pembelajaran sebagaimana diuraikan di atas, maka proses pembelajaran
tradisional-konvensional yang terjadi dalam ruangan kelas, pada era
desentralisasi dan globalisasi saat ini pelan namun pasti akan mengalami mulai
kehilangan bentuk. Di samping itu, dalam kenyataannya pada skala yang lebih
besar, kegiatan belajar tradisional-konvensional membutuhkan biaya yang cukup
besar dalam penyiapan infrastrukturnya (ruangan, laboratorium, perpustakaan,
meubel, media pembelajaran, dan lain-lain).
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Hakikat Kemasan Bahan Belajar Melalui Teknologi Informasi?
2. Bagaimana
Prosedur Pengembangan Bahan Ajar ?
3.
Bagaimana Pengemasan Bahan Pembelajaran ?
4. Bagaimana
Kawasan Teknologi Pembelajaran ?
C.
Tujuan Pembahasan
1. Untuk
Mengetahui Hakikat Kemasan Bahan Belajar Melalui Teknologi Informasi
2. Untuk
Mengetahui Prosedur Pengembangan Bahan Ajar
3.
Untuk Mengetahui Pengemasan Bahan Pembelajaran
4. Untuk
Mengetahui Kawasan Teknologi Pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Kemasan Bahan Belajar Melalui Teknologi Informasi
Istilah Teknologi Informasi lahir pada abad ke duapuluh yang
diawali dengan terbentuknya masyarakat informasi. Istilah Teknologi Informasi
yang menggunakan kata informasi, pada dasarnya sangat berkaitan dengan istilah
TK (Teknologi Komunikasi) yang dikenal lebih dahulu.
Menurut Richard Weiner dalam Websters New Word Dictionary and
Communications disebutkan bahwa teknologi informasi adalah pemrosesan,
pengolahan, dan penyebaran sata oleh kombinasi komputer dan telekomunikasi.
Hakikat Teknologi Informasi Kemajuan teknologi yang menyatukan
kemajuan komputasi, televisi, radio, dan telepon menjadi satu kesatuan
(terintegrasi) terbentuk sebagai suatu revoluasi informasi dan komunikasi
global. Revolusi ini terwujud dari kemajuan teknologi di bidang komputer pribadi,
komunikasi data dan kompresi, bandwitdh, data stroge dan data acess, integrasi
multimedia dan jaringan komputer. Teknologi Informasi dapat menjadi alat
pendorong ke arah kemajuan bangsa. Salah satu dampak terbesar adalah
perkembangan pembangunan di bidang pendidikan.
Hal yang merupakan jembatan menuju bangsa yang maju di mana
masyarakat dapat memiliki alat-alat yang membantu mereka mengembangkan usaha
dan menikmati hasilnya secara mudah, murah dan merata. rumah tangga yang
memiliki kornputer yang terhubung ke Internet, maka kesempatan bagi siswa untuk
memanfaatkan Internet juga semakin tinggi. Dengan demikian bisa diasumsikan
pula bahwa peluang memanfaatkan internet untuk keperluan pendidikan atau secara
lebih khusus lagi untuk keperluan pembefajaran di lingkungan sekolah di
Indonesia menjadi hal yang sangat mungkin dan layak untuk dilaksanakan.
B.
Prosedur Pengembangan Bahan Ajar
1.
Analisis
Pada tahap ini dicoba untuk mengenali siapa peserta diklat, dengan perilaku
awal dan karakteristik yang dimiliki. Perilaku awal berkenaan dengan penguasaan
dan kemampuan bidang ilmu atau mata tataran yang sudah dimiliki peserta.
Seberapa jauh peserta sudah menguasai mata tataran itu? Sementara itu
karakteristik awal memberikan informasi tentang ciri-ciri peserta.
Jika informasi tentang peserta sudah diketahui, maka inplikasi terhadap
rancangan bahan ajar dapat ditentukan, dan bahan ajar dapat segera
dikembangkan. Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik
awal peserta sangat diperlukan untuk menentukan kebutuhan peserta dan kemudian
merancang bahan ajar yang bermanfaat bagi peserta.
2. Perancangan
Dalam tahap perancangan, ada beberapa hal yang harus dilakukan atau
diperhatikan yaitu:
a.
Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis,
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, akan diperoleh peta atau diagram
tentang kompetensi yang akan dicapai peserta baik kompetensi umum maupun
kompetensi khusus. Kompetensi umum dan kompetensi khusus, jika dirumuskan
kembali dengan kaidah-kaidah yang berlaku, akan menjadi tujuan pembelajaran
umum dan tujuan pembelajaran khusus.
b.
Pemilihan topik mata tataran
Jika tujuan pembelajaran sudah ditetapkan dan analisis sudah dilakukan,
maka peserta sudah mempunyai gambaran tentang kompetensi yang harus dicapai
oleh peserta melalui proses belajar. Dengan demikian petatar juga dapat segera
menetapkan topik mata tataran dan isinya. Acuan utama pemilihan topik mata
tataran adalah silabus dan analisis instruksional yang telah penatar miliki.
c.
Pemilihan media dan sumber
Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah penatar memiliki
analisis instruksional dan mengetahui tujuan pembelajaran. Penatar diharapkan
tidak memilih media hanya karena media tersebut tersedia bagi penatar,
disamping itu penetar diharapkan juga tidak langsung terbujuk oleh kesediaan
beragam media canggih yang sudah semakin pesat berkembang saat ini seperti
komputer.
d.
Pemilihan strategi pembelajaran
Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika merancang
aktivitas belajar. Dalam merancang urutan penyajian harus berhubungan dengan
penentuan tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur utama yang harus disajikan
dalam topik mata tataran.
3.
pengembangan
Persiapan dan perancangan yang matang sangat diperlukan untuk mengembangkan
bahan ajar dengan baik. Beberapa saran yang dapat membantu untuk memulai pengembangan
bahan ajar:
1.
Tulislah apa dapat ditulis, mungkin berbentuk LKS, bagian dari penyususnan
buku atau panduan praktik.
2.
Jangan merasa bahwa bahan ajar harus ditulis secara berurutan.
3.
Tulis atau kembangkan bahan ajar untuk peserta yang telah dikenal.
4.
Ingat bahan ajar yang dikembangkan harus dapat memeberikan pengalaman
belajar kepada peserta.
5.
Ragam media, sumber belajar, aktivitas dan umpan balik merupakan komponen
penting dalam memperoleh bahan ajar yang menarik, bermanfaat dan efektif bagi
peserta.
6.
Ragam contoh, alat bantu belajar, ilustrasi serta pengemasan bahan ajar
juga berperan dalam membuat bahan ajar.
7.
Gaya penulisan untuk bagian tekstual, naratif, explanatory, deskriptif,
argumentatif dan perintah sangat penting agar peserta dapat memahami maksud
penatar.
4. Evaluasi dan revisi
Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari berbagai
pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Reaksi ini hendaknya dipandang
sebagai masukan untuk memperbaiki bahan ajar dan menjadikan bahan ajar lebih
berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk melihat efektifitas bahan ajar
yang dikembangkan. Apakah bahan ajar yang dikembangkan memang dapat digunakan
untuk belajar-dimengerti, dapat dibaca dengan baik dan dapat membelajarkan
peserta. Di samping itu evaluasi diperlukan untuk memperbaiki bahan ajar
sehingga nmenjadi bahan ajar yang baik.
Secara umum ada 4 cara untuk mengevaluasi bahan ajar yaitu
1.
Telaan oleh ahli materi (lebih ditekankan pada validitas keilmuan serta
ketepatan cakupan)
2.
Uji coba satu-satu (Salah seorang peserta mengkaji bahan ajar, kemudian
diminta untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi,
perwjahan dan tingkat kesukaran)
3.
Uji coba kelompok kecil (Satu kelompok kecil mengkaji bahan ajar, kemudian
diminta untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi,
perwjahan dan tingkat kesukaran)
4.
Uji coba lapangan ( Untuk memperoleh informasi apakah bahan ajar dapat
mencapai tujuan?. Apakah bahan ajar dianggap memadai dan seterusnya.
C.
Pengemasan Bahan Pembelajaran
Bahan pembelajaran
dapat dikemas dalam bentuk printed matterial yaitu bahan- bahan yang tercetak,
misalnya modular, pembelajaran terprogram, bahan ajar suplemen, buku, booklet,
liflet, dan lain-lain. Dengan pendekatan teknologi pendidikan pengemasan bahan
ajar perlu memperhatikan aspek-aspek diantaranya : keterbacaan visual, belajar
tuntas, menarik minat, reinforcemen. Yang dimaksud dengan keterbacaan visual
adalah bahan ajar harus memiliki keterbacaan yang tinggi oleh pengguna
diantaranya pemilihan gambar atau ilustrasi sesuai dengan tema / isi dibuat
sederhana dan tidak terlalu terkesan ramai. Penggunaan bahasa simplel sesuai
dengan kaidah dan tingkat kesulitan bahasan (skup dan seqwence) sesuai dengan
tingkatan usia pembaca. Selain itu diperhatikan juga aspek pemilihan warna dan
penggunaan outline. Beberapa jenis printed matterial diantaranya :
a. Pengajaran
Terprogram Pengajaran terprogram (proggrame instruction) merupakan salah satu
sistem pembelajaran individual dimaan mahasiswa belajar dengan program ini
dapat terjadi di luar kelas tanpa kehadiran guru / dosen..Dalam pembelajaran
terprogram terdapat beberapa model atau tipe yang dikemukakan oleh para ahli.
b. secara umum
terdapat dua tipe yaitu tipe linear dan tipe bercabang (branching). Pada setiap
tipe disusun menjadi beberapa frame atau bingkai.tiap bingkai mengandung
beberapa unsur yaitu : (a) informasi sesuatu yang disampaikan, (b) pertanyaan
sebagai bahan latihan, (c) respon yang berfungsi sebagai kunci jawaban.
c.
Pembelajaran Modular
Modul adalah kesatuan program yang dapat
mengukur tujuan pembelajaran. Modul juga dapat dipandang sebagai paket program
yang disusun dalam bentuki satuan tertentu guna keperluan belajar. Secara lebih
lengkap modul adalah satu unit program belajar yang mengajar terkecil yang
secara terinci menggariskan :
(1).
Tujuan pokok materi yang dipelajari (tujuan umum)
(2).
Tujuan instruksional khusus,
(3) Pokok materi yang akan dipelajari,
(4)
kedudukan dan fungsi satuan dalam kesatuan program yang lebih luas,
(5)
peran guru / dosen dalam kegiatan belajar mengajar,
(6)
Alat dan sumber yang akan dipakai,
(7)kegiatan
belajar mengajar yang akan dilaksanakan dan
(8)
lembaran-lembaran kerja mahasiswa yang harus dilaksanakan selama kegiatan
pembelajaran.
D. Kawasan Teknologi Pembelajaran
1. Kawasan Desain
Yang dimaksud dengan desain disini adalah proses untuk menentukan kondisi
belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Kawasan desain
bermula dari gerakan psikologi pembelajaran, terutama diilhami dari pemikiran
B.F. Skinner (1954) tentang teori pembelajaran.
a.
Desain Sistem Pembelajaran
biasanya merupakan
prosedur linier dan interaktif yang menuntut kecermatan dan kemantapan. Agar
dapat berfungsi sebagai alat untuk saling mengontrol, semua langkah –langkah
tersebut harus tuntas.
b.
Desain pesan
Yaitu perencanaan untuk
merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim dan
penerima, dengan memperhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi,dan daya
tangkap. Fleming dan Levie membatasi pesan pada pola-pola isyarat, yang dapat
memodifikasi perilaku kognitif, afektif dan psikomotor.
c.
Strategi pembelajaran
Yaitu spesifikasi untuk
menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan belajar dalam
suatu pelajaran. Teori tentang strategi pembelajaran meliputi situasi belajar
dan komponen belajar/mengajar.
d.
Karakteristik pembelajaran
Yaitu segi latar
belakang pengalaman pembelajar yang mempengaruhi terhadap efektivitas proses
belajarnya. Karaketeristik pembelajar mencakup keadaan sosio-psiko-fisik
pembelajar.
2. Kawasan Pengembangan
Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk
fisik, di dalamnya meliputi :
(1) teknologi cetak;
(2) teknologi
audio-visual;
(3) teknologi berbasis
komputer; dan
(4) teknologi terpadu.
3. Kawasan Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan
sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan
kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran. Mereka yang terlibat
dalam pemanfaatan mempunyai tanggung jawab untuk mencocokkan pembelajar dengan
bahan dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan pembelajar agar dapat
berinteraksi dengan bahan dan aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan
selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pembelajar, serta
memasukannya ke dalam prosedur oragnisasi yang berkelanjutan.
4. Kawasan Pengelolaan
Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran melalui:
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan
pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan
media. Pembauran perpustakaan dengan program media membuahkan pusat dan ahli
media sekolah. Program-program media sekolah ini menggabungkan bahan cetak dan non
cetak sehingga timbul peningkatan penggunaan sumber-sumber teknologikal dalam
kurikulum.
5. Kawasan Penilaian
Penilaian merupakan proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan
belajar, mencakup :
(1) analisis masalah;
(2) pengukuran acuan patokan;
(3) penilaian formatif; dan
(4) penilaian sumatif.
BAB
III
PENUTUP
·
SIMPULAN
Dari
uraian tentang layanan informasi sebagai wahana untuk pemberdayaan masyarakat
adalah :
1. Informasi adalah benda abstrak yang dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan positif dan atau sebaliknya. Informasi dapat mempercepat atau memperlambat pengambilan keputusan.
2. Informasi dapat disajikan dalam berbagai bentuk baik lisan (oral), tercetak (printed), audio, maupun audio-visual gerak yang masing-masing memiliki ciri khas, kelebihan dan kekurangan.
3. Teknologi informasi merupakan seperangkat fasilitas yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak yang dalam prakteknya diarahkan untuk mendukung dan meningkatkan kualitas informasi yang sangat dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat secara cepat dan berkualitas.
1. Informasi adalah benda abstrak yang dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan positif dan atau sebaliknya. Informasi dapat mempercepat atau memperlambat pengambilan keputusan.
2. Informasi dapat disajikan dalam berbagai bentuk baik lisan (oral), tercetak (printed), audio, maupun audio-visual gerak yang masing-masing memiliki ciri khas, kelebihan dan kekurangan.
3. Teknologi informasi merupakan seperangkat fasilitas yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak yang dalam prakteknya diarahkan untuk mendukung dan meningkatkan kualitas informasi yang sangat dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat secara cepat dan berkualitas.
Daftar pustaka
Dahlan, M. Alwi, dkk., Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia vol. 5 dan 6, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi Tahun 2001, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi dan Elektronika Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( P3TIE – BPPT ), 2001.
Pelayanan Publik, Ensiklopedi Wikipedia Indonesia, 2007
Rogers, M. Everett, Communication Technology- The New Media in Society, The Free Press, A. Dursion of Macmillan, Inc., New York, 1986.
Comments
Post a Comment